Entah kenapa tiba2 teringat lagi flashback semasa SMP, di mana aku dan teman2 sekelas sedang khusyu’ menyalin tulisan guru kami mengenai sejarah Islam, membahas bagaimana gagahnya Thariq bin Ziyad membakar semangat kaum muslimin agar terus maju dalam penaklukan Andalusia, mengangkat topik masa keemasan Dinasti Abbasiyah di bawah pimpinan Khalifah Harun Al-Rasyid, ketika tiba-tiba celetukan sang guru membuyarkan semuanya, meninggalkan pertanyaan di benak kami.
Makanan favorit Bapak mi kuah, minuman favorit Bapak kuah mi
Gubrak.com
Speechless
Tepuk satu jari
Frozen
Dan beribu ekspresi kami yang sulit disebutkan satu per satu.
Flashback beralih lagi, menuju sebuah ruangan kelas yang berbeda, dengan suara musik yang mengalun. ‘Everybody hurts… everybody cries… Don’t blow your head… If you feel like you’re alone.. No, no, no, not alone….’. Terkadang lagu “You Raise Me Up” yang mengiringi kami dan kami pun sibuk mengisi titik-titik pada kertas berisi lirik yang belum lengkap. Sebelum pelajaran dimulai, sang guru bercerita di depan kelas sambil meletakkan kapur di telapak tangannya dan menggoyang-goyangkan seperti hendak melempar dadu. Bercerita dari potensi rakyat Indonesia hingga Da Vinci Code dan The Templar. Sungguh mendengar cerita beliau membuat diri ini termotivasi oleh sang guru yang sangat luas wawasannya.
Flashback bergulir sangat cepat. Kali ini di hadapan kami sang guru yang berperawakan mungil baru saja selesai membagikan selembar kecil kertas yang berisi garis menyerupai jalinan benang kusut. Itulah sarapan kami tiap pelajaran beliau, fiksasi mata, beliau menyebutnya. Fiksasi mata yang kami perlukan untuk melatih kecepatan baca, agar Kemampuan Efektif Membaca kami meningkat kata per menitnya.
Flashback kali ini lain lagi. Dengan senyum yang selalu tersungging dan semangat yang tinggi, sang guru menjelaskan rentang musim hujan dan musim kemarau, fenomena-fenomena alam yang terjadi, dan turut menularkan semangatnya pada kami yang hampir tertidur siang itu. Ada satu hari yang kami ingat saking lucunya, saat beliau sedang ada di kelas kami membahas mengenai pernak-pernik bumi, tiba-tiba lantai yang kami pijak sendiri bergetar, kami semua panik, dan beliau tersenyum. Kami mengalami sendiri fenomena yang sedang kami pelajari.
Tiba-tiba layar mengabur dan muncul kembali dengan latar berbeda. Kami mendengarkan dengan antusias topik bahasan yang sedang guru kami jelaskan. Bab Thaharah, zakat, sampai harta waris, dikemas demikian rupa sehingga menjadi obrolan yang menarik dan mudah dicerna. Dan sosoknya perlahantergantikan sosok berjilbab yang dengan suara tegas–hingga tidak ada satu pun dari kami yang tertidur–menerangkan step-step dari morula kemudian blastula lalu gastrula.
Belum puas aku melamun, tiba-tiba aku tersentak oleh sesuatu yang tiba-tiba melintas
hey, ABM, kapan reunian???
hmm… zaman boleh berlalu tapi knapa ya cerita klise “mi kuah-kuah mi” tetep nomer 1? entah berapa kali aku tulis baik di blog, notes fb, … (diary, mungkin?)