Summoning ABMers

Entah kenapa tiba2 teringat lagi flashback semasa SMP, di mana aku dan teman2 sekelas sedang khusyu’ menyalin tulisan guru kami mengenai sejarah Islam, membahas bagaimana gagahnya Thariq bin Ziyad membakar semangat kaum muslimin agar terus maju dalam penaklukan Andalusia, mengangkat topik masa keemasan Dinasti Abbasiyah di bawah pimpinan Khalifah Harun Al-Rasyid, ketika tiba-tiba celetukan sang guru membuyarkan semuanya, meninggalkan pertanyaan di benak kami.

Makanan favorit Bapak mi kuah, minuman favorit Bapak kuah mi

Gubrak.com

Speechless

Tepuk satu jari

Frozen

Dan beribu ekspresi kami yang sulit disebutkan satu per satu.

Flashback beralih lagi, menuju sebuah ruangan kelas yang berbeda, dengan suara musik yang mengalun. ‘Everybody hurts… everybody cries… Don’t blow your head… If you feel like you’re alone.. No, no, no, not alone….’. Terkadang lagu “You Raise Me Up” yang mengiringi kami dan kami pun sibuk mengisi titik-titik pada kertas berisi lirik yang belum lengkap. Sebelum pelajaran dimulai, sang guru bercerita di depan kelas sambil meletakkan kapur di telapak tangannya dan menggoyang-goyangkan seperti hendak melempar dadu. Bercerita dari potensi rakyat Indonesia hingga Da Vinci Code dan The Templar. Sungguh mendengar cerita beliau membuat diri ini termotivasi oleh sang guru yang sangat luas wawasannya.

Flashback bergulir sangat cepat. Kali ini di hadapan kami sang guru yang berperawakan mungil baru saja selesai membagikan selembar kecil kertas yang berisi garis menyerupai jalinan benang kusut. Itulah sarapan kami tiap pelajaran beliau, fiksasi mata, beliau menyebutnya. Fiksasi mata yang kami perlukan untuk melatih kecepatan baca, agar Kemampuan Efektif Membaca kami meningkat kata per menitnya.

Flashback kali ini lain lagi. Dengan senyum yang selalu tersungging dan semangat yang tinggi, sang guru menjelaskan rentang musim hujan dan musim kemarau, fenomena-fenomena alam yang terjadi, dan turut menularkan semangatnya pada kami yang hampir tertidur siang itu. Ada satu hari yang kami ingat saking lucunya, saat beliau sedang ada di kelas kami membahas mengenai pernak-pernik bumi, tiba-tiba lantai yang kami pijak sendiri bergetar, kami semua panik, dan beliau tersenyum. Kami mengalami sendiri fenomena yang sedang kami pelajari.

Tiba-tiba layar mengabur dan muncul kembali dengan latar berbeda. Kami mendengarkan dengan antusias topik bahasan yang sedang guru kami jelaskan. Bab Thaharah, zakat, sampai harta waris, dikemas demikian rupa sehingga menjadi obrolan yang menarik dan mudah dicerna. Dan sosoknya perlahantergantikan sosok berjilbab yang dengan suara tegas–hingga tidak ada satu pun dari kami yang tertidur–menerangkan step-step dari morula kemudian blastula lalu gastrula.

Belum puas aku melamun, tiba-tiba aku tersentak oleh sesuatu yang tiba-tiba melintas

hey, ABM, kapan reunian???

Talking about the past

Aku bener2 orang yang ga bisa lepas dari masa lalu ya. Dari bentuk tanda tangan juga udah keliatan, katanya tanda tangan dengan bentuk.. –aduh gmn ya jelasinnya? Pokonya tanda tangan aku huruf depannya A trus kaki si A bagian kiri nya membentuk lintasan hampir stengah lingkaran –mirip kaya soal favorit SMA (favorit guru, maksudnya^^v) waktu UTS/UAS fisika ttg kekekalan energi, yang kalo di soal tuh lintasan bola itu, lho, yang biasanya pertanyaannya pada titik mana posisi tertinggi bola? Dijawab dalam R (jari-jari). Dan ternyata soal-soal serupa aku temuin lagi di kuliah.

*Stoppe, stoppe! (gaya Chiaki waktu berhentiin orkestra). Mau bahas tandatangan atau fisika neeh?!

Yup, kembali ke jalan yang benar, menurut buku panduan “Grapho for Success”, orang dengan tanda tangan kaya gitu memiliki prinsip bahwa masa lalu adalah bagian yang sangat penting dalam hidupnya. Apa ini maksudnya orang kaya gitu susah lupain masa lalu? Atau sering merasa ingin balik lagi ke masa lalu? Atau merasa sedih meninggalkan masa lalu? (ah, ini terlalu lebai). Kalo jawabannya ya, berarti emang bener, aku orang yang sangat menganggap penting masa lalu.

Liat buku kenangan SMP, nangis, inget guru-guru SMP, nangis. Baca tulisan waktu SMA, nangis–lho ko banyak nangisnya?? Ada temen SMA yang ke Bandung ga bilang2, langsung berkaca-kaca (ehm, siapa ya? ada yang ngerasa? :D ), untung ga sampai nangis soalnya lagi kuliah, ehehe. Dan berhubung dulu, dulu lho, dulu, aku sering nulis, baik di blog, diary (masih jaman ya?), Microsoft OneNote, berhamburanlah kenangan-kenangan itu, menyerbu layaknya ombak yang datang tanpa henti.

Paling sedih kalo udah liat tulisan jaman SMA kelas 1 atau 2, terlihat masih semangat menggebu-gebu, ide2 masih cemerlang, tulisannya mengalir, mungkin bisa berbagi motivasi dan hikmah ke orang lain (amin, semoga aja iya). Dan sempet mikir, ko bisa dulu bikin tulisan kaya gitu? Malah pernah serasa baca tulisan orang lain, padahal itu tulisanku sendiri. Ada apa sebenarnya uli? Ada apa??!–ehm, mba, maaf, mba ga lagi main sinetron

Tuh kan, sekarang malah ga jelas mau nulis apa. Maklum, udah lama ga nulis2 lagi, kangen sih sebenrnya, kangen banget. Tapi apa daya, sekarang waktunya ga bersahabat–pinjem istilah temen SMP, keinget terus sampe sekarang.

Barusan aja, baru menyadari sesuatu yang keadaannya amat sangat berbeda. Sedihnya aku ga tau pasti kapan perubahan itu terjadi. Dari situ langsung inget jaman dulu, perasaan ga gitu2 amat. Aduh aneh lah pokonya gabisa diungkapkan dengan kata-kata, maaf ya kalo ga dimengerti..

Perasaan yang dulu pernah muncul jadi muncul lagi, bahkan lebih dahsyat. Masih inget postingan aku tentang “Zakariasickness” yang juga aku post di note facebook? Tadi aku baca itu lagi dan perasaan yang sama kembali terulang.

Ya Allah, kadang aku ngerasa diri aku yang dulu jauh lebih baik dari yang sekarang. Ingin rasanya “interogasi” uli yang dulu:
“Li, kiat2 bisa gini tuh gimana? Kamu tiap hari kebiasaannya apa? Ada tips ga buat gini, gitu, apa?” Tapi sekali lagi aku sadar, yang berlalu ga bisa di replay, kecuali dunia ini udah nyiptain alat yang bisa melampaui kecepatan cahaya, in other word udah bisa bikin time machine, mesin waktu kaya di novel trilogi “Gideon”.

Di tengah deruan memori yang seolah berloncatan dari time capsule yang udah sekian lama dikubur, tiba2 inget tulisan Bu Atik di diary waktu SMP (fyi, dulu waktu kelas 2 guru B.Ind menjadikan diary sbg tugas yang harus dikumpulin tiap minggu, sama Bu Atik dikomentarin, dan mungkin sebagai media untuk mengenal murid dan berkomunikasi bagi yang sulit diajak ngobrol. Programnya cuup efektif, disambut baik sama anak2 sekelas, terutama yang perempuan). Waktu itu aku lagi terserang demam yang sama dan konsultasi ke Bu Atik. Sebagai balasan, beliau nulis:

Uli, kadang masa lalu yang kita lalui bisa jadi jebakan lho! Buktinya, akrena suatu masalah, kita jadi berfikir ingin kembali ke masa lalu karena masa lalu menyenangkan. Padahal kita hidup di masa sekarang yang jauh berbeda dengan masa lalu. Usia, masalah, teman-teman, dll juga berbeda. Jadi keharusan kita adalah jalani hidup kita sekarang dengan ilmu yanng juga mudah2an meningkat dan lebih tinggi dibandingkan masa lalu.

Cring, cring, cring… (ceritanya ada cahaya kemilauan, artinya dapet pencerahan, penerj-)

Yup, stuju, Bu! Cukup jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Siapa tau kenangan2 kaya gitu salah satu strategi syetan menggelincirkan kita sebagai hamba Allah yang sedang menjalankan tugas, fungsi, dan peran kita. Naudzubillahi min dzalik.. Sekarang yang harus dilakukan adalah luruskan niat, yakin bahwa Allah selalu memperhatikan semua perbuatan kita. Cukuplah Allah sebagai saksi perbuatan kita. Jangan pusingkan bagaimana pandangan orang lain terhadap kita, kecuali untuk dijadikan bahan introspeksi diri untuk ke arah yang lebih baik.

Sebagai penutup, walau belum izin (tapi insyaAllah boleh, bageur da orangnya^^), mau ngutip status facebook sohib aku waktu SMA. Kemarin2 aku liat beliau nulis:

aku tidak ingin kalah dengan aku yang dulu

Simpel, pendek, bahkan 1 detik ngelirik pun udah kebaca. Tapi tahukah kau, Yuni? Status FB mu membuat hatiku turut menggemakan kalimat itu. Azzamku dalam hati, aku bakal menang dari aku yang dulu!! Smangat li!^^9

Coaching Spirit #1

Assalamu’alaikum semuanya^^

Wah, apa kabar nih blog-ku yang jarang diisi? Hehe, maklum, udah kuliah jadi agak sibuk gimana gitu (alasan klasik ya?) Sekarang kebetulan ada waktu, ingin sharing acara waktu Jum’at kemarin.

Sebelum masuk ke topik, aku mau cerita dulu. Beberapa bulan yang lalu aku diminta jadi coach acara Spirit 2011 yang diadain SMA 3 tiap taun. Bagi yang belum tau acara Spirit, acara ini dirancang, dibuat, dilaksanakan oleh adik kelas 2 dan alumni untuk kelas 3 yang bakal ujian. Misalnya taun ini, angkatan 2010 yang udah lulus kerjasama dgn OSIS 2012 buat Launching pada awalnya. Taun lalu, angkatan 2008 kerjasama dgn OSIS 2011 buat angkatan 2009, begitulah seterusnya. Acara perdananya ada pengenalan jurusan2, banyak yang diundang, terutama ITB. Kita ngundang himpunan2 di ITB buat presentasi di SMA 3. Dari sana ada follow up nya berupa pengelompokan coaching berdasarkan jadwal yang sesuai disertai 1 coach.

Coaching ini bisa dibilang adalah fasilitas yang dikasih buat adik2 kelas 3 yang bisa dimanfaatin buat nanya tentang kuliah, sharing kalo lagi galau, nanya soal, dll, dsb. Atau kata lainnya sih salah satu bentuk kasih sayang (cie) kakak2 alumni ke adik2nya. Beneran deh, soalnya taun lalu kan aku juga ngalamin masa coaching, dari awal launching acara sampai coaching sama tetehnya, bener2 kerasa manfaatnya, ngebantu kalo lagi down, ngasih banyak pencerahan, dan semua itu GRATIS. Makanya sekarang aku ngerasa inilah saat yang tepat untuk meneruskan jejak langkah akang-teteh dulu yang ngasih banyak motivasi^^

Coaching kelompok aku sendiri mulai Jumat tanggal 21 Januari, dan 2 Februari kemarin baru ngejalanin coaching ke-2. Waktu hari pertama, berhubung baru ketemu, sharing2 aja sama adik2nya. Semua cerita mau masuk mana dan rata2 pada GALAU. Haha. Jadi inget masa2 kelas 3 dulu, aku juga sempet galau, ko. Trus cerita aja gimana setengah hatinya aku ikut USM, deg2an nunggu hasil SNMPTN, betapa malesnya abis SNMPTN harus blajar buat persiapan Monbusho, dan nawarin ke adik2 kalo ada yang mau softcopy soal2 dan materi UN-SNMPTN. Alhamdulillah adik2nya antusias, dan saat itu ngerasa seneng juga bisa berbagi pengalaman ke orang2 yang perlu banyak masukan dan motivasi. Mudah2an aja bermanfaat :D

Waktu itu aku ditanya tips n tricks lolos SNMPTN apa. Sebenernya aku bingung mau jawab apa soalnya aku juga gatau knapa bisa lolos, waktu itu malah udah nyiapin mental klo hasilnya ga lolos sekalipun. Trus tiba2 aku inget waktu masa2 nunggu pengumuman SNMPTN dan lagi sibuk blajar buat Monbusho, di tengah kegalauan itu, ada temen yang SMS, isinya kurang lebih ngungkapin kegalauan dia dan takut klo2 terjadi hal terburuk, ga lolos SNMPTN. Ga terlalu banyak mikir aku bales, dan berhubung abis nonton “3 idiots”, aku ngetik:

“Ikhlas aja, serahin semuanya ke Allah. Kalo ga tenang, yakinin diri aja kalo semua yang bakal terjadi itu pasti yang terbaik, inget aja efek ‘aal iz well’, smua bakal baik2 aja”

Dan ternyata adik2 aku banyak yg blm nonton 3 idiots. Gubrakk! Aku jelasin di film itu ada Raju yang lagi galau dan berusaha blajar mati2an, trus sama Rancho (tokoh utama filmnya) dikasih saran, kalo lagi terjebak di suatu kondisi yang ga nyaman, untuk ngehindarin stress,  gumamkan terus “aal iz well.. aal iz well..”, plesetan dari “all is well”. Trus Raju balik nanya, klo udah bilang gitu, emang smua masalah bakal terselesaikan? Jawaban Rancho (dgn sdikit perubahan) jadi kalimat favorit adik2:

all iz well memang tidak membuat semuanya jadi baik, tapi minimal kita jadi bisa lebih survive

atau istilah di teks aslinya : it gains the dare to survive

Aku juga cerita ke adik2 waktu sms itu kekirim, tiba2 aku sadar klo aku juga sbenernya ga lebih ga deg2an dari dia, makanya aku bilang sms itu jadi lebih ke nasehatin diri sendiri, dan kadang jalan buat self-calming itu bisa dateng dari mana aja ya nggak?

Oya, ada 1 lagi yang ga kalah penting, aku ngajak adik2 supaya ga takut bermimpi. Aku critain pngalaman waktu mau masuk SMA 3. Waktu SMP, entah kenapa SMA yang aku liat itu cuma SMA 3, bener2 pengen masuk, saking ngototnya, aku sampe bikin power point disertai hyperlink dll dsb (ceritanya dulu di sekolah abis blajar power point) yang isinya nilai UN Math, Indonesia, English yang aku inginin, lengkap sama koma2nya. Aku nulis nilai Math 10; English 9,5; Indonesia 9,2 dengan total 28,7. Tiap hari power point nya aku buka dan pas pengumuman nilai UN, ternyata nilainya.. Jengjeng!

Math 10; English 9,4; Indonesia 9,2 dengan total 28,6, beda 0,1 dari power point bohongan yang aku bikin (eh, sekarang masih ada lho filenya, hehe)

Dan ini belum sampai cerita puncaknya. Setelah dapet nilai UN, aku daftar ke SMA 3, aku mulai lagi bikin impian baru, aku buat surat yang ceritanya dari SMA 3 (file nya juga masih ada), isinya pemberitahuan kalo aku keterima di SMA 3 dengan urutan ke-150 dari 324 siswa. Aku tambahin lengkap sama space buat tandatangan Pa Cucu, kepala sekolah waktu itu, ditambah NIP nya. Dan waktu detik2 terahir pengumuman aku deg2an luar biasa, setelah liat hasilnya.. Jengjengjengjreeng! (lebih heboh dari yang pertama)

Alhamdulillah aku ada di urutan 152, beda 2 posisi dari yang aku ketik di surat itu!

Subhanallah… Betapa Allah Maha Mendengar do’a2 hamba-Nya. Ada adik yang sempet nyeletuk mau ikutan bikin kayak gitu, misalnya bikin layout seolah2 pengumuman SNMPTN, aku kasih liat juga halaman web yang isinya pngumuman aku masuk FTSL ITB, siapa tau bisa jadi inspirasi.

Coaching hari itu dimulai dan ditutup dengan lancar, alhamdulillah. Tapi cerita belum slesai, masih ada coaching 2minggu setelahnya yang ga kalah banyak hikmahnya^^



Kunjungan Istimewa

Bismillah… (Ya Allah, biarkan tangan ini memaparkannya dengan lancar..)

Tanggal 13 Oktober kemarin (2 hari sebelum UTS), aku dan teman-temanku di SMA 3 yang tergabung dalam himpunan alumni MTs Zakaria angkatan V (halah) pergi ke sekolah tercinta untuk halal bihalal. Seneng! Tapi ada sedikit perasaan takut dikacangin kayak kunjungan entah beberapa bulan sebelumnya. Tapi wajar, sih. Waktu itu kita dateng saat guru-guru sibuk mempersiapkan UN adik kelas kita. So???

Di perjalanan, aku lebih banyak diem (eh, iya gitu?? lupa). Pokonya aku g banyak ngomong prasaan mah. Aku menikmati perjalanan naik angkot Antapani-Ciroyom yang dilanjutin naik jurusan Margahayu-Ledeng ke arah by pass. Aku menghayati alunan suara klakson mobil yang ditekan mang angkot yang ga sabaran. Menghayati gerakan mobil  saat melewati fly over Kiaracondong. Merasakan deru angin yang masuk lewat celah jendela saat mobil melaju kencang di By Pass Soekarno-Hatta. Aku jadi teringat masa SMP dulu. Tiap hari aku lewat jalan ini. Menyebrangi by pass di mana kendaraan seolah-olah tak akan pernah memperlambat lajunya. Kemudian berjalan menyusuri sungai Cidurian yang walaupun airnya kotoooor sekali, tapi aku tetap menikmati “petualangan kecil” itu, menapaki jalan yang berbatu-batu, terkadang banjir apabila hujan deras, dan ilalang-ilalang yang tumbuh di tepi sungai. (Asa lebai, tapi emang gitu kenyatannya!)

Aku dan 3 temanku (you know who, lah, siapa lagi?) melangkahkan kaki cepat-cepat karena g sabar. Hmm… suasananya masih seperti 2 tahun lalu. Sawah-sawah masih menghampar. Komplek Bea Cukai sudah jadi sepenuhnya. Dan, inilah saat yang ditunggu-tunggu!!! Dari kejauhan terlihat bangunan hijau nan indah yang berdiri kokoh di tengah asrinya tetumbuhan. Itulah sekolahku! That’s my lovely school!!! Tempat di mana aku menuntut ilmu sejak taman kanak-kanak, tempat aku diajarkan siapa itu Allah, kedudukan kita di hadapan-Nya, tempat aku mengenal guru-guru yang.. Subhanallah.. Semoga Allah membalas semua kebaikan Ibu dan Bapak Guru.. (Duh, mata udah mulai berkaca-kaca)

Sesampainya di dalam gedung sekolah, aku langsung melesat ke Ruang Guru dengan perasaan berdebar-debar. I’m coming….!!!! Dan.. JRENG!!!!

Yang pertama kali kami lihat adalah Bu Tuni, sedang mengangkat telepon yang masuk. Beliau tersenyum riang menyambut kami. Perutnya tengah mengandung 8 bulan. Oh Bu Tuni, guru bahasa Indonesia kami yang mungil itu tengah mengandung anak pertamanya.. Mudah-mudahan jadi anak yang sholeh, ya, Bu. Setelah bersalaman dengan Bu Tuni, kami saling memaafkan dengan Pak Ahmad dan Pak Zai. Eh, sebelumnya, ada yang berubah! Ruang guru sekarang lebih luas. Dua kali lipatnya mungkin. Dan para guru sekarang memakai batik berwarna kuning-hitam — warna kebesaran Zakaria– (Huhuhuhu.. kangen pake sragam kuning-item lagi…)

Kami sungkem lagi ke sana kemari, dan muncul Pak Sholeh!!! Pak, kangen, Pak.. Susah diungkapkan knapa aku bisa kangen. Pak Sholeh keukeuh bilang kalo aku Amalia. Pak, dari dulu nama aku ga pernah ganti: AULIA. Hahaha, Pak Sholeh bodor. Rindu sikap bijaknya Pak Sholeh, ulangan Aqidah Akhlaq yang susaaah.. bgt (tapi g tau knapa selalu bagus, ga kayak ulangan pas SMA), rindu semuanya! Ada Bu Popon juga, wali kelas yang selalu sabar menghadapi kelas yang tertutup dan sering dibilang kelas yang isinya tembok semua sama guru-guru. Rindu senyum manis Bu Popon, yang g bisa diganti sama senyum orang lain (yaiyalah). Di tengah kebahagiaan yang memuncak itu (ah, g sgitunya kali), muncullah sosok yang fotonya aku tempel di buku LKOD sebagai idola.  Qisthi nyenggol2 aku dan.. mataku menangkap sosok itu. Pak Eka!!! Ya ampun, Pak.. jujur, bapak itu guru tergaring yang pernah Uli temui. Guru yang kadang bikin kesel, tapi banyak banget pelajaran yang ULi dapet dari bapak. Bapak membuat pelajaran sejarah kebudayaan Islam tentang Turki Usmani jadi menarik dan aku sering dapet 100 pas ulangan. Ada satu kejadian yang ga pernah bisa Uli lupa ttg bapak (saking garingnya kali, ya?)

Waktu pelajaran SKI, di sela-sela waktu kosong, sehabis menyalin catatan dari blackboard yang penuh dengan tulisan tangan Pak Eka yang bagus,kira2 begini percakapannya

Pak Eka : “Tau ga?”

Anak2 : “Enggak..”

Pak Eka : “Makanan favorit bapak mi kuah,”

Anak2 : “Trus???” (dalem hati, tapi)

Pak Eka : (dengan tiis ngelanjutin) “Klo minuman favorit bapak kuah mi”

Gubrak!!!! Dan stlh ninggalin tanda tanya besar itu, si bapak langsung ngajar lagi di depan muka-muka yang ga jelas bentuknya (antara nahan ketawa ngakak ama nahan nangis). Standing applause deh!! Kata2 beliau bisa juga dikasih penghargaan sebagai nominasi pemenang Crispy Crunchy Award (minjem kata2 Kak Irfan AmaLee). Tapi, justru itulah yang bikin Pa Eka unik, dan bikin siswa nyaman plus santai belajar SKI. Bneran!

Ah, Zakaria, terlalu banyak kenangan di sana. Susah buat ngelupainnya. Sekarang aku ada di SMA Negri yang kondisinya amat-sangat-pisan- berbeda dengan kondisi di Zak dulu. Dan, aku ngerasa sikap aku pun berubah. Tapi gradiennya negatif. Delta enthalpinya negatif(wah, berarti melepas kalor, dong??). Dan, tiba2 aku pingin nyantumin postingan lama aku, yang ada hub. nya dikit ama ini.

———-

Soalnya selama di SMA 3 ini aku ngerasa sifat aku berubah jadi makin jelek. Ga tau kenapa. Aku juga sering mikir, kenapa jadi kayak gini? Bukannya dulu aku janji ama guru-guru Zakaria bakalan mempertahankan iman walopun digoncang angin sekeras-kerasnya? Mana bukti dari janji itu?

Jadi inget Bu Popon, beliau bilang di buku tahunan,
“Sudah kehendak Allah, bahwa kita harus berpisah, berat sih.. tapi, kalau mengingat bahwa kalian berjanji akan senantiasa menjaga diri dan menjaga iman, ibu bisa lebih plong, artinya kalian akan mampu menjadi para hamba Allah yang tidah mudah tergoyahkan oleh terpaan angin sekencang apapun. Semoga ananda mampu seperti pohon yang memiliki akar yang kuat menguhjam ke dalam tanah, sehingga pohon itu akan tumbuh tegak menjulang tinggi, dan menghasilkan buah-buah yang lebat.”

Berarti, Bu Popon (dan juga guru-guru yang lain) udah percaya sama kita untuk menjalankan tugas kita sebagi hamba Allah di manapun kita berada. Dan kepercayaan itu ga boleh kita khianatin. Ayo berjuang, teman-teman! (Khususnya temen-temen TK-ku… Anies, Qisthi, Qoni, Gio, Zaki. Kalian ga lupa kan sama pesan-pesan Pa Sholeh, Pa Wildan, Bu Popon, Bu Siti, Pa Maman, Pa Eka, Bu Tuni, Bu Selli, Bu Atik ?? Ga lupa kan ama guru-guru yang udah berjasa besar sehingga kita bisa menuntut ilmu di SMA 3 ??) Friday, April 4th 2008

———-

Yah.. mungkin itu inti dri smua ini, inti dari postingan panjang yang geje ini. Intinya mah, aku pingin bisa menjaga diri seperti yang Bu Popon bilang. Li, azzamkan dalam hati, Uli pasti bisa memperbaiki diri. Ayo! Seraplah kalornya supaya perubahan enthalpi nya positif! (masih wae dibahas??).

Yup! Itulah kenapa judul postingan ini Kunjungan Istimewa. Karena dengan kunjungan yang awalnya hanya bertujuan untuk halal bihalal, aku jdi bisa berkunjung ke sudut hati yang terdalam (mulai kambuh lebai-nya, harap maklum) dan mengungkapkan apa yang selama ini aku pendem2.. dan mungkin bakal berakibat fatal kalo ga sempet dituangkan. Hhh.. lega, deh. Sebenernya masih ada banyak hal yang mau aku tulis, tapi untuk sekarang cukup sgini dulu (ada juga beberapa yang ga harus aku tulis di sini). Kalo ga berhenti sekarang, bisa-bisa bikin buku yang terbit 7 seri kayak Harpot nya J.K Rowling. ^^

Alhamdulillah.. slese juga.. Plong, uy.

Tukang Cuci dan Tukang Odong-Odong

Hari ini.. yahh… biasa aja, sih. Ke sekolah buat belajar, plus ada tambahan fisika dari Bu Ani (ngambil pelajaran B. Inggris dengan perstujuan Bu Fitriyas. Cuman, yg bikin hari ini spesial adalah waktu pelajaran Bu Dewi (Seni Rupa), Bu Dewi ngebebasin kita mau ngerjain PR, mau maen-maen, asal ga ganggu kegiatan yang laen. Trus anak-anak ada yg lagi susulan ULUM Seni Rupa, ngumpulin tugas cover CD ma karya bebas, n macem-macem.

Aku ama temen sebangkuku, Kiky, ngerjain PR Matematika. Sama juga kayak Reni yg duduk di belakangku. Si Calie (yang sebangku ma Reni) mungkin bingung mau ngapain. Akhirnya dia ngajak kita ngobrol tentang macem-macem. Trus gatau knapa si Kiky tiba-tiba ngomong dengan logat ala sinetron yang di lebai-kan (aduh, bahasanya susah!)

Pokonya dia bilang : “Ghuwe ghag shukha khalo lho deket2 ama dyia”. Kita semua langsung ngakak. Kita diskusi kalo sekarang sinetron2 Indonesia udh ga bermutu. Buktinya aja tadi, sekarang bnyk sinetron yg diperankan anak remaja yang nada bicaranya gitu-gitu aja. Trus, terilhami dari omongan Kiky yang ngikutin sinetron tadi, Calie malah bikin skenario. Jadi critanya Kiky dan dia ngerebutin seorang lelaki yang di tuh anak Ketua Yayasan tempat mereka sekolah.

1……2…..3…..Action!!

Kiky : “Ghuwe ghag shukha khalo lho deket2 ama dyia. Lho thau khan, dhyia ithu anak Ketua Yayasan? Ngacha dong luu!! NGACHAAA!!!” (dengan bibir yang dimonyong-monyongin dan mata yang disinis-sinisin)

Calie : “Heh, lho khali yang hharush ngacha. Lo tuh chuma anak tukang cuci blakang rumah guwe!! Sedangkan gue anak tukang odong-odong depan rumah lu! Jadi gue lebih pantes ama cowo itu!!!!” (dengan ekspresi yang ga jauh beda ama Kiky)

Ga pake tapi-tapian kita langsung terbahak-bahak. Ngapain juga si Calie make bilang dia anak tukang odong-odong??!!!!Odong-odong itu mainan anak-anak yang bisa jalan kalo udah di-goes(??) pedalnya ama si emangnya, kan? Duuuh… emang ga ada tukang maenan yang laen, ya?? Kenapa milih odong-odong? Konyol, konyol, tapi seruu!!! Refreshing sebelum ULUM kan bisa berguna juga.. ^^ (alaaah…; giliran ngeles, aja, pinter banget!) Monday, June 02, 2008–

————————————————————————————–

Yup!! Itu adalah cuplikan dri postingan aku duluuu bgt (g dulu bgt, sih..). Waktu itu prasaan pas akhir2 kelas satu, lah. Trus, ngapain juga si Uli make nampilin ini segala?? Sebenrnya cuma iseng, sih.. ehehehe.. Tapi, di balik semua itu… ada satu hal… yang sangat-sangat ga penting (gubrak.com)

Cuma mau bandingin aja kondisi kelas satu ma kelas dua. Jauh bgt!!! (g jauh bgt, sih.. hehe). Dulu, masih bisa ketawa-ketiwi (kyk contoh di atas), masih sempet bikin skenario, pula. Kalo sekarang?? Masih juga sih (lho??) cuma.. ya nyadar diri aja, klo g mau naik kelas mah (euleuh-euleuh… sadiss…) Emang bener, kok! Dan g tau kenapa.. aku masuk ke 2 IPA 3 yang sayangnya rajin2 dan tentu saja pintar2 (lho? harusnya termotivasi, ya??). Dengan begitu, aku harus belajar-ekstra-keras!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

SMANGAT, LI!!!!!!!!!!

Hffft….. (mau ngeluh apa lagi, nih??) –Ga jadi, deng. Ini blom ada apa2 nya dibandingin persaingan hidup nanti. Dunia bakal lebih kejam, Li. Kalo segini doang udah ngeluh ini lah, itu lah, mau jdi apa kmu nanti?? Tukang odong-odong ??!!!! :P

Ya sudah, lah, jalani saja jalan yg memang hrus kmu jalani karena ini adalah ketentuan Allah. Nu penting mah berikan yang terbaik dan tetep lurusin niat untuk mencari ridho-Nya. Titik. (heu, maksa gini) (biarin, da emang bener) (tpi jgn terlalu ekstrim doong..) (engga ekstrim, ah, biasa aja)

–Naon deuih kalahkah monolog??

NGIUNG!!! NGIUNG!!! NGIUNG!!!

Wah! Alarmnya bunyi!!! Tanda2 kegejean mulai tercium!! Y udah atuh, ya, sampe sini dulu. Waduh, waduh, (sok2 an riweuh tea) Lari!!!!!!!!!! (???)