Bismillah… (Ya Allah, biarkan tangan ini memaparkannya dengan lancar..)
Tanggal 13 Oktober kemarin (2 hari sebelum UTS), aku dan teman-temanku di SMA 3 yang tergabung dalam himpunan alumni MTs Zakaria angkatan V (halah) pergi ke sekolah tercinta untuk halal bihalal. Seneng! Tapi ada sedikit perasaan takut dikacangin kayak kunjungan entah beberapa bulan sebelumnya. Tapi wajar, sih. Waktu itu kita dateng saat guru-guru sibuk mempersiapkan UN adik kelas kita. So???
Di perjalanan, aku lebih banyak diem (eh, iya gitu?? lupa). Pokonya aku g banyak ngomong prasaan mah. Aku menikmati perjalanan naik angkot Antapani-Ciroyom yang dilanjutin naik jurusan Margahayu-Ledeng ke arah by pass. Aku menghayati alunan suara klakson mobil yang ditekan mang angkot yang ga sabaran. Menghayati gerakan mobil saat melewati fly over Kiaracondong. Merasakan deru angin yang masuk lewat celah jendela saat mobil melaju kencang di By Pass Soekarno-Hatta. Aku jadi teringat masa SMP dulu. Tiap hari aku lewat jalan ini. Menyebrangi by pass di mana kendaraan seolah-olah tak akan pernah memperlambat lajunya. Kemudian berjalan menyusuri sungai Cidurian yang walaupun airnya kotoooor sekali, tapi aku tetap menikmati “petualangan kecil” itu, menapaki jalan yang berbatu-batu, terkadang banjir apabila hujan deras, dan ilalang-ilalang yang tumbuh di tepi sungai. (Asa lebai, tapi emang gitu kenyatannya!)
Aku dan 3 temanku (you know who, lah, siapa lagi?) melangkahkan kaki cepat-cepat karena g sabar. Hmm… suasananya masih seperti 2 tahun lalu. Sawah-sawah masih menghampar. Komplek Bea Cukai sudah jadi sepenuhnya. Dan, inilah saat yang ditunggu-tunggu!!! Dari kejauhan terlihat bangunan hijau nan indah yang berdiri kokoh di tengah asrinya tetumbuhan. Itulah sekolahku! That’s my lovely school!!! Tempat di mana aku menuntut ilmu sejak taman kanak-kanak, tempat aku diajarkan siapa itu Allah, kedudukan kita di hadapan-Nya, tempat aku mengenal guru-guru yang.. Subhanallah.. Semoga Allah membalas semua kebaikan Ibu dan Bapak Guru.. (Duh, mata udah mulai berkaca-kaca)
Sesampainya di dalam gedung sekolah, aku langsung melesat ke Ruang Guru dengan perasaan berdebar-debar. I’m coming….!!!! Dan.. JRENG!!!!
Yang pertama kali kami lihat adalah Bu Tuni, sedang mengangkat telepon yang masuk. Beliau tersenyum riang menyambut kami. Perutnya tengah mengandung 8 bulan. Oh Bu Tuni, guru bahasa Indonesia kami yang mungil itu tengah mengandung anak pertamanya.. Mudah-mudahan jadi anak yang sholeh, ya, Bu. Setelah bersalaman dengan Bu Tuni, kami saling memaafkan dengan Pak Ahmad dan Pak Zai. Eh, sebelumnya, ada yang berubah! Ruang guru sekarang lebih luas. Dua kali lipatnya mungkin. Dan para guru sekarang memakai batik berwarna kuning-hitam — warna kebesaran Zakaria– (Huhuhuhu.. kangen pake sragam kuning-item lagi…)
Kami sungkem lagi ke sana kemari, dan muncul Pak Sholeh!!! Pak, kangen, Pak.. Susah diungkapkan knapa aku bisa kangen. Pak Sholeh keukeuh bilang kalo aku Amalia. Pak, dari dulu nama aku ga pernah ganti: AULIA. Hahaha, Pak Sholeh bodor. Rindu sikap bijaknya Pak Sholeh, ulangan Aqidah Akhlaq yang susaaah.. bgt (tapi g tau knapa selalu bagus, ga kayak ulangan pas SMA), rindu semuanya! Ada Bu Popon juga, wali kelas yang selalu sabar menghadapi kelas yang tertutup dan sering dibilang kelas yang isinya tembok semua sama guru-guru. Rindu senyum manis Bu Popon, yang g bisa diganti sama senyum orang lain (yaiyalah). Di tengah kebahagiaan yang memuncak itu (ah, g sgitunya kali), muncullah sosok yang fotonya aku tempel di buku LKOD sebagai idola. Qisthi nyenggol2 aku dan.. mataku menangkap sosok itu. Pak Eka!!! Ya ampun, Pak.. jujur, bapak itu guru tergaring yang pernah Uli temui. Guru yang kadang bikin kesel, tapi banyak banget pelajaran yang ULi dapet dari bapak. Bapak membuat pelajaran sejarah kebudayaan Islam tentang Turki Usmani jadi menarik dan aku sering dapet 100 pas ulangan. Ada satu kejadian yang ga pernah bisa Uli lupa ttg bapak (saking garingnya kali, ya?)
Waktu pelajaran SKI, di sela-sela waktu kosong, sehabis menyalin catatan dari blackboard yang penuh dengan tulisan tangan Pak Eka yang bagus,kira2 begini percakapannya
Pak Eka : “Tau ga?”
Anak2 : “Enggak..”
Pak Eka : “Makanan favorit bapak mi kuah,”
Anak2 : “Trus???” (dalem hati, tapi)
Pak Eka : (dengan tiis ngelanjutin) “Klo minuman favorit bapak kuah mi”
Gubrak!!!! Dan stlh ninggalin tanda tanya besar itu, si bapak langsung ngajar lagi di depan muka-muka yang ga jelas bentuknya (antara nahan ketawa ngakak ama nahan nangis). Standing applause deh!! Kata2 beliau bisa juga dikasih penghargaan sebagai nominasi pemenang Crispy Crunchy Award (minjem kata2 Kak Irfan AmaLee). Tapi, justru itulah yang bikin Pa Eka unik, dan bikin siswa nyaman plus santai belajar SKI. Bneran!
Ah, Zakaria, terlalu banyak kenangan di sana. Susah buat ngelupainnya. Sekarang aku ada di SMA Negri yang kondisinya amat-sangat-pisan- berbeda dengan kondisi di Zak dulu. Dan, aku ngerasa sikap aku pun berubah. Tapi gradiennya negatif. Delta enthalpinya negatif(wah, berarti melepas kalor, dong??). Dan, tiba2 aku pingin nyantumin postingan lama aku, yang ada hub. nya dikit ama ini.
———-
Soalnya selama di SMA 3 ini aku ngerasa sifat aku berubah jadi makin jelek. Ga tau kenapa. Aku juga sering mikir, kenapa jadi kayak gini? Bukannya dulu aku janji ama guru-guru Zakaria bakalan mempertahankan iman walopun digoncang angin sekeras-kerasnya? Mana bukti dari janji itu?
Jadi inget Bu Popon, beliau bilang di buku tahunan,
“Sudah kehendak Allah, bahwa kita harus berpisah, berat sih.. tapi, kalau mengingat bahwa kalian berjanji akan senantiasa menjaga diri dan menjaga iman, ibu bisa lebih plong, artinya kalian akan mampu menjadi para hamba Allah yang tidah mudah tergoyahkan oleh terpaan angin sekencang apapun. Semoga ananda mampu seperti pohon yang memiliki akar yang kuat menguhjam ke dalam tanah, sehingga pohon itu akan tumbuh tegak menjulang tinggi, dan menghasilkan buah-buah yang lebat.”
Berarti, Bu Popon (dan juga guru-guru yang lain) udah percaya sama kita untuk menjalankan tugas kita sebagi hamba Allah di manapun kita berada. Dan kepercayaan itu ga boleh kita khianatin. Ayo berjuang, teman-teman! (Khususnya temen-temen TK-ku… Anies, Qisthi, Qoni, Gio, Zaki. Kalian ga lupa kan sama pesan-pesan Pa Sholeh, Pa Wildan, Bu Popon, Bu Siti, Pa Maman, Pa Eka, Bu Tuni, Bu Selli, Bu Atik ?? Ga lupa kan ama guru-guru yang udah berjasa besar sehingga kita bisa menuntut ilmu di SMA 3 ??) Friday, April 4th 2008
———-
Yah.. mungkin itu inti dri smua ini, inti dari postingan panjang yang geje ini. Intinya mah, aku pingin bisa menjaga diri seperti yang Bu Popon bilang. Li, azzamkan dalam hati, Uli pasti bisa memperbaiki diri. Ayo! Seraplah kalornya supaya perubahan enthalpi nya positif! (masih wae dibahas??).
Yup! Itulah kenapa judul postingan ini Kunjungan Istimewa. Karena dengan kunjungan yang awalnya hanya bertujuan untuk halal bihalal, aku jdi bisa berkunjung ke sudut hati yang terdalam (mulai kambuh lebai-nya, harap maklum) dan mengungkapkan apa yang selama ini aku pendem2.. dan mungkin bakal berakibat fatal kalo ga sempet dituangkan. Hhh.. lega, deh. Sebenernya masih ada banyak hal yang mau aku tulis, tapi untuk sekarang cukup sgini dulu (ada juga beberapa yang ga harus aku tulis di sini). Kalo ga berhenti sekarang, bisa-bisa bikin buku yang terbit 7 seri kayak Harpot nya J.K Rowling. ^^
Alhamdulillah.. slese juga.. Plong, uy.