Dunia atau Akhirat, ya?

Ada kisah seseorang yang tinggal di zaman Nabi Musa. Lebih tepatnya, dia anak dari paman sang Nabi, Qarun namanya. Ada yang belum kenal? Namanya ada di dalam Al-Qur’an lho, bisa di check di QS.28:76. Dia punya harta yang sangat banyak sampai2 untuk mengangkat kunci dari gudang hartanya aja perlu tenaga yang cukup besar. Kalo kita lihat2, secara duniawi Qarun emang sukses. Apalagi di ayat selanjutnya dikisahkan Qarun menganggap harta2 itu dateng gara2 kepintaran atau ilmu yang dia miliki. Tapi apa yang terjadi, sodara2? Qarun dan rumahnya ditenggelamkan oleh Allah ke dalam bumi hingga tidak berbekas. *kisah ini bisa jadi asal-usul dai kata “harta karun” yang udah kita kenal dari kecil

Sebenernya dari kisah Qarun ini, maksud Allah apa ya?

Ada pertanyaan yang sering melintas dan sebenernya perlu banget jawaban : “Mana yang benar, kejar dunia ingat akhirat, atau kejar akhirat ingat dunia?” Kalo dipikirin kadang sampe bingung sendiri, ya ga? *atau aku aja?* Tapi sebenarnya, kalo kita lihat Al-Qur’an, semua kegalauan itu akan terjawab. Ga percaya? Di ayat 77 nya, Allah udah ngingetin kita untuk mencari negeri akhirat dan jangan lupakan dunia. Bagian yang disebut duluan adalah akhirat, itu tandanya kita harus memprioritaskan yang satu itu. Dunia dan akhirat ga akan berbenturan karena segala sesuatu yang dilakukan di dunia kita orientasikan untuk akhirat.

Kalo diibaratkan, ada orang yang menanam padi, maka rumput sedikitnya akan ikut tumbuh lah ya. Beda halnya kalo orang menanam rumput, aneh banget kan kalo padi tiba2 tumbuh? Nah, akhirat di sini bagaikan padi, dan dunia adalah rumputnya. Kalo kita berorientasi akhirat, insyaAllah dunia akan mengikuti. Jadi jangan ragu buat luruskan niat setiap harinya, sebenernya buat apa kita hidup di dunia ini. Seringkali kita terjebak rutinitas. Bangun tiap pagi, siap2, brangkat dari rumah, blajar, rapat, main, kita ga tau buat siapa semua ini kita dedikasikan. Emang apa sih sebenernya yang kita cari? Sudahkan akhirat jadi orientasi kita?

Let me think for awhile

‘Gimana ya sikap kita kalo ada temen yang berbuat salah?’ Dulu bilangnya, ah, ini mah masalah klasik, tinggal ingetin, beres! Skarang baru ngerasain bingungnya setelah ngalamin sendiri.

(tarik nafas pelan…)

Fuuuh… (menghembuskan nafas pun rasanya berat)

We don’t always have the same principle, we’ve argued sometimes, but WHY do we have to be different for this basic thought?

Talking about the past

Aku bener2 orang yang ga bisa lepas dari masa lalu ya. Dari bentuk tanda tangan juga udah keliatan, katanya tanda tangan dengan bentuk.. –aduh gmn ya jelasinnya? Pokonya tanda tangan aku huruf depannya A trus kaki si A bagian kiri nya membentuk lintasan hampir stengah lingkaran –mirip kaya soal favorit SMA (favorit guru, maksudnya^^v) waktu UTS/UAS fisika ttg kekekalan energi, yang kalo di soal tuh lintasan bola itu, lho, yang biasanya pertanyaannya pada titik mana posisi tertinggi bola? Dijawab dalam R (jari-jari). Dan ternyata soal-soal serupa aku temuin lagi di kuliah.

*Stoppe, stoppe! (gaya Chiaki waktu berhentiin orkestra). Mau bahas tandatangan atau fisika neeh?!

Yup, kembali ke jalan yang benar, menurut buku panduan “Grapho for Success”, orang dengan tanda tangan kaya gitu memiliki prinsip bahwa masa lalu adalah bagian yang sangat penting dalam hidupnya. Apa ini maksudnya orang kaya gitu susah lupain masa lalu? Atau sering merasa ingin balik lagi ke masa lalu? Atau merasa sedih meninggalkan masa lalu? (ah, ini terlalu lebai). Kalo jawabannya ya, berarti emang bener, aku orang yang sangat menganggap penting masa lalu.

Liat buku kenangan SMP, nangis, inget guru-guru SMP, nangis. Baca tulisan waktu SMA, nangis–lho ko banyak nangisnya?? Ada temen SMA yang ke Bandung ga bilang2, langsung berkaca-kaca (ehm, siapa ya? ada yang ngerasa? :D ), untung ga sampai nangis soalnya lagi kuliah, ehehe. Dan berhubung dulu, dulu lho, dulu, aku sering nulis, baik di blog, diary (masih jaman ya?), Microsoft OneNote, berhamburanlah kenangan-kenangan itu, menyerbu layaknya ombak yang datang tanpa henti.

Paling sedih kalo udah liat tulisan jaman SMA kelas 1 atau 2, terlihat masih semangat menggebu-gebu, ide2 masih cemerlang, tulisannya mengalir, mungkin bisa berbagi motivasi dan hikmah ke orang lain (amin, semoga aja iya). Dan sempet mikir, ko bisa dulu bikin tulisan kaya gitu? Malah pernah serasa baca tulisan orang lain, padahal itu tulisanku sendiri. Ada apa sebenarnya uli? Ada apa??!–ehm, mba, maaf, mba ga lagi main sinetron

Tuh kan, sekarang malah ga jelas mau nulis apa. Maklum, udah lama ga nulis2 lagi, kangen sih sebenrnya, kangen banget. Tapi apa daya, sekarang waktunya ga bersahabat–pinjem istilah temen SMP, keinget terus sampe sekarang.

Barusan aja, baru menyadari sesuatu yang keadaannya amat sangat berbeda. Sedihnya aku ga tau pasti kapan perubahan itu terjadi. Dari situ langsung inget jaman dulu, perasaan ga gitu2 amat. Aduh aneh lah pokonya gabisa diungkapkan dengan kata-kata, maaf ya kalo ga dimengerti..

Perasaan yang dulu pernah muncul jadi muncul lagi, bahkan lebih dahsyat. Masih inget postingan aku tentang “Zakariasickness” yang juga aku post di note facebook? Tadi aku baca itu lagi dan perasaan yang sama kembali terulang.

Ya Allah, kadang aku ngerasa diri aku yang dulu jauh lebih baik dari yang sekarang. Ingin rasanya “interogasi” uli yang dulu:
“Li, kiat2 bisa gini tuh gimana? Kamu tiap hari kebiasaannya apa? Ada tips ga buat gini, gitu, apa?” Tapi sekali lagi aku sadar, yang berlalu ga bisa di replay, kecuali dunia ini udah nyiptain alat yang bisa melampaui kecepatan cahaya, in other word udah bisa bikin time machine, mesin waktu kaya di novel trilogi “Gideon”.

Di tengah deruan memori yang seolah berloncatan dari time capsule yang udah sekian lama dikubur, tiba2 inget tulisan Bu Atik di diary waktu SMP (fyi, dulu waktu kelas 2 guru B.Ind menjadikan diary sbg tugas yang harus dikumpulin tiap minggu, sama Bu Atik dikomentarin, dan mungkin sebagai media untuk mengenal murid dan berkomunikasi bagi yang sulit diajak ngobrol. Programnya cuup efektif, disambut baik sama anak2 sekelas, terutama yang perempuan). Waktu itu aku lagi terserang demam yang sama dan konsultasi ke Bu Atik. Sebagai balasan, beliau nulis:

Uli, kadang masa lalu yang kita lalui bisa jadi jebakan lho! Buktinya, akrena suatu masalah, kita jadi berfikir ingin kembali ke masa lalu karena masa lalu menyenangkan. Padahal kita hidup di masa sekarang yang jauh berbeda dengan masa lalu. Usia, masalah, teman-teman, dll juga berbeda. Jadi keharusan kita adalah jalani hidup kita sekarang dengan ilmu yanng juga mudah2an meningkat dan lebih tinggi dibandingkan masa lalu.

Cring, cring, cring… (ceritanya ada cahaya kemilauan, artinya dapet pencerahan, penerj-)

Yup, stuju, Bu! Cukup jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Siapa tau kenangan2 kaya gitu salah satu strategi syetan menggelincirkan kita sebagai hamba Allah yang sedang menjalankan tugas, fungsi, dan peran kita. Naudzubillahi min dzalik.. Sekarang yang harus dilakukan adalah luruskan niat, yakin bahwa Allah selalu memperhatikan semua perbuatan kita. Cukuplah Allah sebagai saksi perbuatan kita. Jangan pusingkan bagaimana pandangan orang lain terhadap kita, kecuali untuk dijadikan bahan introspeksi diri untuk ke arah yang lebih baik.

Sebagai penutup, walau belum izin (tapi insyaAllah boleh, bageur da orangnya^^), mau ngutip status facebook sohib aku waktu SMA. Kemarin2 aku liat beliau nulis:

aku tidak ingin kalah dengan aku yang dulu

Simpel, pendek, bahkan 1 detik ngelirik pun udah kebaca. Tapi tahukah kau, Yuni? Status FB mu membuat hatiku turut menggemakan kalimat itu. Azzamku dalam hati, aku bakal menang dari aku yang dulu!! Smangat li!^^9

Sebuah kisah

Suatu hari seorang anak mempersembahkan sebuah puisi pada ibunya, puisi tetang keutamaan seorang hafidz Qur’an. Dengan keyakinan yang tinggi akan makna mendalam puisi yang ia buat, sang anak membacakannya, penuh penjiwaan. Sudah dibayangkan mata ibunda yang akan berkaca-kaca tanda terharu setelah mendengarnya. Tapi setelah selesai, sang ibu berkomentar, “Nak, sangat bagus kau punya cita-cita seperti itu, tapi jangan sampai kau lupa akan pengamalan Al-Qur’an. Jangan sampai kau hanya hafal, tanpa mengerti dan menjalankan perintah Allah di dalamnya. Ibu senang anak-anak ibu memiliki cita-cita yang sangat mulia, tapi pengamalannya lah yang harus diutamakan, bahkan diwajibkan oleh Pencipta kita. Jika kamu hafal Qur’an, barulah itu suatu poin lebih yang bisa kau persembahkan pada-Nya.”. Alih-alih sang anak melihat air mata haru, dihadapannya sang ibu tersenyum, seolah mencoba memberi pemahaman dan meluruskan pandangan buah hatinya. Setelah itu, sang anak hanya bisa membalas senyum ibundanya sembari menahan tangis. Ucapan terimakasih pun tak kuasa ia ucapkan, “Terimakasih Bu, ibu menghindarkanku dari persepsi yang dapat membuatku salah tujuan. Do’akan anakmu agar dapat selalu mengamalkan ajaran-Nya dan juga mampu menghafal kalam-kalam-Nya”

Do’a Menjelang Fajar

Kudengar sebuah berita gembira

Bahwa yang hafidz Qur’an,

Disediakanlah bagi orangtuanya mahkota surga

Di alam kubur pun dilarang-Nya malaikat

Hanya untuk menyentuh sedikit saja

Maka

Saat tinggal sedikit yang tersisa di hadapan Sang Mahasegala

Kududuk bersimpuh dengan kaki melepuh

Allah, jangan biarkan aku mati

Sebelum kukhatamkan hafalan Qur’an-Mu yang suci

-23 Oktober 2009-