Judul : Perempuan Terluka
Penulis : Qaisra Shahraz
Penerbit : Mizan, Cetakan ke-4 Mei 2008
Tebal : 400 halaman
Novel ini menceritakan tentang kesalahpahaman cinta yang membuat banyak pergolakan. Berawal dari pertemuan Naghmana–seorang pelajar dari kota yang hendak berlibur dan memiliki wajah yang cantik– dan Haroon di tengah malam yang kemudian diketahui istri Haroon, Gulshan. Tuntutan Hajra, ibunda Gulshan yang tak rela putrinya disakiti begitu saja, dan dengan amarah yang meluap segera melaporkan perbuatan tersebut pada sang kadi desa Chiragpur, Siraj Din tanpa mau mendengar terlebih dahulu penjelasan Haroon. Bahkan Fatima, bibi dari Naghmana dengan kasar menampar dan menjambak Naghmana seolah ia bukan kelaurganya sendiri. Dan malangnya berita tersebut segera tersebar luas karena mulut besar 2 orang tetangga yang terkenal suka menggunjing kesana kemari, Kulsoom Bibi dan Naimat Bibi.
Segera setelah Hajra menghadap Siraj Din, siangnya ditetapkan akan diadakannya kacheri, yaitu semacam sidang yang dilakukan jika ada yang berbuat salah dengan sang kadi sebagai hakim. Seluruh pelosok desa memaksakan hadir, tidak ingin ketinggalan berita, ibu yang sedang hamil, perempuan yang biasanya susah berjalan jauh, bahkan seorang kakek tua renta pun turut ingin menyaksikan “drama” tersebut. Ketika saatnya tiba, apa yang terjadi justru sebaliknya. Naghmana yang awalnya dihakimi dan dipandang hina malah menjadi dikasihani karena ternyata ia adalah istri pertama Haroon yang saat itu belum diketahui faktanya. Semua yang hadir merasa bersalah karena sang hakim “memaksa” Haroon untuk menceraikan Naghmana walaupun masing-masing mereka tidak mau memutuskan ikatan pernikahan. Tapi tidak disangka Naghmana tetap meminta Haroon untuk menceraikannya karena melihat tatapan mata Gulshan yang sangat merana. Dan tiba-tiba hakim memerintah Haroon untuk menalak tiga kali sekaligus. Dengan berat hati Haroon melakukannya. Akhirnya Naghmana meninggalkan kacheri itu setelah bibinya, Fatima, mengutuk dan menyumpahi semua yang ada dalam kacheri itu terutama Hajra dan Siraj Din yang bertanggungjawab akan terlaksananya kacheri tersebut.
20 tahun kemudian, Siraj Din tengah sekarat dan sekuat tenaga ia meminta pada cucunya agar dapat bertemu dengan “dia”. Tak salah lagi dia yang dimaksud adalah Naghmana. Naghmana yang saat itu sedang merasakan kebahagiaan dengan suaminya yang seorang profesor dan dua anak laki-laki berusia 18 dan 14 tahun merasa enggan kembali ke desa yang telah membuat ia terus bermimpi buruk selama 19 tahun terakhir. Namun atas dorongan sang suami yang juga penasaran akan masa lalu Naghmana akhirnya ia dan suaminya kembali ke desa Chiragpur. Dan di sanalah luka itu kembali terkuak. Walaupun sejak dulu Naghmana sudah memaafkan apa yang telah mereka semua perbuat, rasa trauma dan halusinasi tentang “ular-ular” yang ketika itu menyudutkan Naghmana di kacheri masih terbayang, bahkan hingga Siraj Din akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Novel ini disampaikan dengan alur yang unik dan tidak membuat bosan. Sejak awal, penulis mampu membuat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Haroon dan Naghmana. Melalui penggalan-penggalan kisah, akhirnya tersusunlah puzzle yang menjelaskan keseluruhan cerita. Dalam novel ini salah satu hal yang sedikit membuat lega adalah Haroon dan Gulshan akhirnya merobohkan tembok tinggi antara mereka berdua yang sebelumnya membatasi mereka selama 19 tahun setelah tragedi kacheri itu terjadi. Namun selebihnya banyak ditemukan penyesalan yang sangat mendalam dan terputus begitu saja tanpa belum sempat terselesaikan. Seperti contohnya ibunda Gulshan yang meninggal karena memendam rasa bersalah, Zulaikha, istri sang kadi yang juga meninggal karena memikirkan keputusan suaminya pada Naghmana, anak Gulshan yang kabur dari rumah karena sudah tidak merasakan adanya kehidupan yang normal antara ia dan kedua orangtuanya, dan yang sangat membuat perih adalah keputusan Naghmana untuk bunuh diri setelah sebelumnya menyumpah-nyumpah di atas kuburan sang kadi dan ditinggalkan oleh suami keduanya karena mengetahui cerita kelam Naghmana di desa Chiragpur. Kemudian sang suami berubah pikiran dan hendak kembali pada Naghmana tapi Naghmana sudah menceburkan dirinya ke dalam sumur tempat ia dan Haroon dulu bertemu, tempat di mana semua malapetaka itu bermula.
Seolah menysuaikan dengan judulnya, akhir yang tragis dan kejadian-kejadian sebelumnya memberi rasa penyesalan yang sangat. Tapi secara keseluruhan novel ini sarat akan lika-liku cinta, pengorbanan, keadilan, ketulusan, dan mengajarkan bagaimana sebuah prasangka di bawah amarah dapat menjadi awal yang buruk dari segalanya.
