Keprofesian Teknik Lingkungan on the Stage

Ehm, sedikit ralat judul: “Keprofesian Teknik Lingkungan on the Stage (baca : Stand)”

Hari Minggu 4 Maret kemarin aku kebagian jadwal jaga stand Teknik Lingkungan jam 2-an di acara AMI (Aku Masuk ITB). Sms dulu Ka Cory, sang Kadept Keprof nanya tempatnya dimana dan ternyata dari jam gadang pun udah keliatan kalo tempatnya di lapangan basket, sodara2! Aku bergegas jalan menuju TKP dengan langkah cepat (karena udah kebiasa ngejar jam kuliah pagi kali ya? hehe) dan langsung ke stand TL. Di sana udah ada Ka Gede dan Ka Shera dari TL, juga beberapa kaka dari HMS dan KMKL. Briefing super singkat dulu dan akhirnya liatin kaka2 jelasin ke orang2 ttg TL itu apa, jelasin maket SPAH, dll dsb.

Kebanyakan dari adik2 yang dateng ke stand nanyain pelajaran apa yang jadi dasar buat blajar di jurusan TL, trus di TL blajar apa aja, aplikasinya apa. Matkul yang jadi dasar itu kimia, nanti ketemu kimia lingkungan, biologi juga dipelajari di mikrobiologi lingkungan, tapi tetep harus bisa matematika buat mata kuliah statistika  sama fisika buat mekanika fluida (lho ini ko smua plajaran ya?), dan ini baru sebagian kecil contoh dari mata kuliah di TL. Pokonya di TL kita mengombinasikan ilmu-ilmu yang intinya sih supaya limbah-limbah tidak mencemari lingkungan atau menimbulkan dampak buruk terhadap masyarakat. Mengutip kata-kata Ka Gede, gampangnya dibuat perbandingan dokter dan sarjana TL. Kalo dokter mengobati orang yang terkena penyakit, sarjana TL berusaha mencegah penyakit itu terjadi..

Aplikasi dari ilmu TL juga banyak, salah satunya Sistem Penampungan Air Hujan (SPAH) yang ada di himpunan. Di AMI kemarin dipasang maket ini di stand. Jadi SPAH ini memanfaatkan air hujan yang jatuh ke atas atap2, kan sayang tuh kalo kebuang gitu aja ke tanah, akhirnya dipasanglah talang dengan kemiringan tertentu buat ngalirin air hujan yang jatuh ke atap jadi masuk ke reservoir. Setelah masuk reservoir, air bakal masuk ke proses filtrasi dan akhirnya bisa dipake buat cuci tangan, wudhu, dan keperluan lain selain untuk dikonsumsi. Yaaah.. ko gabisa diminum? #pengunjung kecewa. Air hasil filtrasinya belum bisa diminum karena memang baru diproses secara fisik, dengan hasil airnya terlihat jernih, Tapi kta belum tau di air itu ada zat apa, atau bahkan ada bakteri apa yang mungkin aja menumbulkan efek kalo masuk ke tubuh kita.

Aplikasi TL yang lain ada wetland yang maketnya pernah di display juga di itbfair. Wetland yang kemarin itu menang lomba Tanoto Foundation lho, dan waktu itu pengmas TL ke Cililin juga dapet penghargaan Tanoto :D Kalo pengmas ke Cililin, idenya sederhana, yaitu membuat akses air bersih jadi lebih mudah dengan pemasangan pipa dari sumber mata air ke desa yang bersangkutan. Dan kata kaka2 TL, jaraknya tuh jauuuuh banget, lupa tepatnya berapa kilometer tapi yang jelas butuh perjuangan buat masang pipa2nya.

Back to wetland, bagi yang penasaran, wetland itu semacam rawa dimana air yang mengalir lewat wetland akan menjadi bersih. Kaka2 yang kemarin ikut lomba ini ngambil tempat di Sungai Cikapundung, kenapa? Karena selain dekat dengan kampus ITB, Sungai Cikapundung ini banyak menerima limbah-limbah domestik dari masyarakat sekitar dan kondisinya sudah jauh berbeda dari sungai yang dulu.

Pada dasarnya air sungai punya kemampuan untuk melakukan self purification atau penjernihan secara otomatis. Tapi sekarang2 ini bisa kita amati berbagai pencemaran sungai yang membuat sungai tidak bisa lagi menyembuhkan dirinya sendiri karena kontaminan yang terlalu banyak, istilahnya alam udah ga kuat nerima beban yang terus menerus dikasih manusia. Akhirnya terjadilah penumpukan kontaminan dan kalo sampai mengganggu stabilitas lingkungan, tarafnya berubah jadi polutan.

Nah, dengan wetland ini, kaka2 HMTL ngerancang alat yang prinsip awalnya menyedot air sungai Cikapundung ke reservoir pake tenaga mesin. Sayangnya gabisa pake prinsip gaya gravitasi gara-gara lokasi tempat dibutanya wetland ini lebih tinggi dari sungai. Setelah masuk reservoir, dilakukan aerasi yang tujuannya ngasih pasokan oksigen ke dalam air. Oksigen ini dibutuhkan mikroba yanga ada di air buat mengurai zat-zat pencemar. Cara nambahinnya macem-macem, ada yang pake kincir, atau dibuat sauran dengan sekat-sekat supaya muncul riak-riak air yang bisa nambah oksigen. Dari sini baru masuk ke wetland yang isinya lapisan-lapisan tanah yang komposisinya mirip kaya percobaan saringan air waktu SD kita dulu.. Uniknya, di atas wetlnd ini ditanami 2 macam tanaman : Papyrus sama bunga kana. Kenapa 2 tumbuhan ini dipilih? DI atas udah disebutin kalo polutan Sungai Cikapundung kebanyakan dari hasil kegiatan domestik, contohnya air detergen bekas nyuci, yang disana banyak mengandung fosfat. Ternyata, Papyrus sama bunga kana  ini bisa nyerap banyak nitrogen sama fosfat jadi air yang udah lewat wetland udah bersih dan ga mengandung N dan P lagi. Oya lupa nyebutin, wetland ini tujuannya memang untuk konservasi, jadi air bersih tadi dikembalikan lagi ke sungai, tapi kalo proses ini jalan terus, bisa jadi solusi untuk masalah kotornya Sungai Cikapundung.

Senengnya, waktu itu ada mba2 yang nyamperin stand dan nanya2, tapi pertanyaannya tingkat tinggi, tentang efluent sama influent syalala (aku belum ngerti gara2 ga ikut briefing tapi untungnya ada Umimi :D ). Dan ternyata mba itu alumni TL angkatan 2003 (pantes aja pertanyaannya mantep), dulu TA nya tentang wetland dan waktu itu pernah ada angkatan di bawahnya yang nanay2 seputar wetland. Ternyata sekarang TA-nya terwujud jadi sesuatu yang kongkrit, nyata, dan bermanfaat. Walaupun terwujud lewat tangan orang lain, tapi serasa merinding gitu dengernya (lebai ah li)

Ngomong2, lagi ngomongin apa ya tadi? Ko nyambung ke wetland? Yasudahlah, kayanya postingan ini dibagi 2 aja, masih ada cerita lagi nih, suka dukanya jaga stand TL. Cerita terakhir di postingan ini, waktu jaga stand itbfair, semakin sore, SDM nya semakin kurang sementara pengunjung makin banyak. Waktu itu jaga bareng Tio sama Umi, plus ditemenin Ka Rani, Ka Wisnu, sama Ka Yufie (dengan pengawasan Ka Desti ^^) Kita dikasih tau Ka Desti kalo jaga standnya selesai jam 4-stengah5an tapi jam segitu belum ada tanda2 acara selesai. Akhirnya kita anak2 TL inisiatif beres2 stand di saat stand himpunan lain masih pada nerima pengunjung. Maket wetland kita cabut listriknya, laptop dimatiin, jaket sama tas dipake, daan.. oh my God masih ada aja pengunjung yang dateng ke stand dan minta dijelasin tentang maketnya. Dengan tas di gendongan, kita jelasin sebisanya dan setelah beberapa menit penjelasan, kita putuskan kalo pengunjung tadi adalah pengunjung terakhir hari ini. Air di dalem maket dipindahin ke ember dan maketnya langsung digotong Ka Wisnu dan Tio ke himpunan. Fiuh.. Bukannya gamau berbagi, aku seneng banget kalo ada acara sharing info semacam ini, tapi asli, waktu itu kita udah cape banget dan belum sempet makan, dan waktu itu masih ada itbfair besoknya, jadi masih ada kesempatan buat dateng dan nanya2. Hoho.. Akhirnya hari itu ditutup dengan hamdalah ditambah segudang cerita buat ibu dan adik2 di rumah :)

Gore-Tex, Salah Satu Penemuan Besar di Bidang Sandang

Gore-Tex adalah suatu membran permeabel yang bersifat tahan air dan terdiri atas milyaran lubang yang amat kecil dan kerap disebut breathable fabric. Dalam waktu bersamaan, Gore-Tex dapat melawan atau menahan air sekaligus terbuka untuk difusi uap air. Penciptaan bahan Gore-Tex oleh kimiawan Amerika bernama Robert W. Gore pada tahun 1969 ini bermula dari kekagumannya terhadap produk yang terbuat dari Teflon. Komponen kimia utama Teflon adalah politetrafluoroetilena (PTFE) yang dapat dipanaskan kemudian direntangkan atau diperpanjang. Tujuan dari perpanjangan ini adalah agar terbentuk membran yang memiliki pori-pori sangat kecil, ukurannya sekitar 20.000 kali lebih kecil dari tetes air, namun 700 kali lebih besar dari molekul uap air sehingga uap air dapat keluar dan kelembaban tetap terjaga.

 

Gambar 1 : Membran Gore-Tex seluas 1 inchi persegi memuat 9.000.000 pori-pori mikroskopis yang diambil menggunakan mikroskop elektron

Sumber : http://ninja250r.files.wordpress.com/2008/06/goretex_photo.gif?w=460

Hak paten atas Gore-Tex didapatkan tahun 1976 dan sejak saat itu bahan ini banyak digunakan dalam industri tekstil. Penggunaan Gore-Tex didukung oleh bahan-bahan lainnya. Terdapat lapisan-lapisan tertentu yang bertujuan untuk melindungi membrane inti untuk menjaga agar jangka waktu pemakaian produk tetap tinggi. Bahan-bahan tersebut disusun menjadi beberapa lapis seperti gambar berikut.

 

Gambar 2 : Skema lapisan garmen Gore-Tex

Sumber : http://ninja250r.files.wordpress.com/2008/06/goretex_schema-en_wikipwdia.png

Dari gambar si atas, terlihat beberapa lapisan yang menjadi suatu kesatuan dalam menjaga agar produk sesuai dengan fungsinya yaitu tahan air dan dapat ‘bernafas’. Lapisan paling dalam adalah lapisan halus, di atasnya terdapat lapisan pelindung baru kemudian ditumpuk oleh membran Gore-Tex yang menahan masuknya air ke lapisan dalam. Di atas membrane Gore-Tex terdapat lapisan pelindung dan lapisan luar yang melindungi lapisan-lapisan di bawahnya dari goresan.

Gore-Tex dipakai dalam pembuatan jaket, topi, sarung tangan, sepatu, celana, dan berbagai macam keperluan sandang lainnya. Namun yang pemakaian Gore-Tex dalam cakupan yang lebih luas lagi adalah pemakaian dalam keperluan militer sebagai bahan pelindung yang nyaman, pembuatan lapisan luar pakaian astronot karena dapat menahan degradasi sinar UV dan menahan suhu ekstrim, dan pemakaian di tempat tidur rumah sakit.

Namun ada sedikit kekurangan dari bahan ini yaitu pemakaiannya kurang cocok untuk kawasan tropis. Gore-Tex berfungsi maksimal ktika tekanan osmotik antara satu sisi dan sisi lain dari membrane cukup tinggi perbedaannya. Membran Gore-Tex pada pakaian umunya akan berhenti ‘bernafas’ ketika suhu di luar membran di atas 15-180C. Pada wilayah tropis yang lembab, keringat tidak dapat keluar karena persamaan suhu antara luar tubuh.

 

Sumber :

http://id.hicow.com/gore-tex/pakaian/terbuka-1840887.html

http://eko11april.blogspot.com/2011/05/gore-tex.html

http://tmcblog.com/2008/06/12/gore-tex-tak-kenal-maka-tak-sayang/

http://ninja250r.files.wordpress.com/

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10260448

Who will be the next ‘Greg’?

I found two brilliant writers named “Greg” who wrote the different genre: Greg Mortenson and Greg Iles. Greg Mortenson’s “Three Cups of Tea” told me about his journey helping people–most of them were Muslim–who lived in isolated area, far away from bustle of city. That’s great experience! Whereas, Greg Iles incorporated technology, science, and fiction and it became wonderful masterpiece, titled “The Digital God”. I’ve been liked this genre of novel since I was young, I love science-fiction so much. The point is… Gregs’ novel made me crazy!! Both of them are amazing!!! You must read it, I swear no one will regret.

Wait the review of those books!! (but only if I have enough time^^)

Theory of Everything

Siang itu di Ruang 7 sebuah bimbel dengan T-Rex sebagai jurus jitunya…

Guru fisika favorit kami-yang sekaligus merangkap sebagai wali kelas 33D3, Pa Har, dengan santai menerangkan fisika modern dan sesekali kita nanya dan diskusi. Beliau jawab dengan sabar dan sekali lagi, tetap santai.

Ternyata fisika modern membuat semuanya serba relatif. Jika kita sekarang duduk diam, apakah benar diam? Terhadap bumi yang kita pijak kita memang diam. Tapi terhadap pusat bumi kita berotasi dan terhadap matahari kita berevolusi. Sama halnya seperti orang menjatuhkan pulpen dalam kereta yang sedang bergerak. Bagi orang di dalam kereta pulpen jatuh vertikal. Tapi bagi orang di luar kereta, lintasan jatuhnya melengkung (kaya setengah parabola) karena saat pulpen menyentuh tanah, keretanya sudah berpindah tempat. Agh sedikit bercanda: “Wah, kalo gitu semua yang kita pelajari itu salah, dong?” Kita berdua langsung ketawa2, ngebayangin gimana pusingnya kemarin ngerjain soal kesetimbangan, dan ga terima kalo SEMUA yang kemarin kita pelajari itu SALAH. Ga mungkin, ga mungkin, semoga engga salah (do’a dalam hati). Ternyata….. Alhamdulillah emang ga salah! Pa Har meluruskan pikiran -sekaligus melegakan hati kami, bahwa semua rumus fisika ga ada yang salah. “Coba aja hitung waktu yang dicapai pulpen dengan lintasan lurus dan lintasan melengkung, pasti sama”. Fiuh, berarti yang kemaren ga sia2 ya Agh^^

Ada juga Teori Relativitas Khusus yang isinya di Postulat 2, dari hasil analisis teori dan perhitungan yang complicated, Om Albert menyatakan bahwa kecepatan cahaya itu mutlak. Analoginya, jika ada mobil melesat dengan kecepatan 300km/jam, kecepatan sedemikian besar itu dirasakan oleh orang yang diam. Sedangkan bagi mobil yang bergerak 299km/jam, mobil pertama serasa bergerak 1km/jam. Nah, beda dengan kecepatan cahaya (3×108 m/s). Jika ada pesawat bergerak 100 m/s dan pesawat yang kecepatannya 2,9×108 m/s, tetap saja kecepatan cahaya bernilai 3×108 m/s bagi kedua pesawat. Subhanallah..

Ada rumus untuk menjumlahkan kecepatan. Kasusnya ada orang diam(O), Kecepatan mobil B terhadap orang (VBO) = 80 km/jam, kec. mobil A terhadap B(VAB) = 10 km/jam), maka bisa dipastikan VAO nya 80+20=100 km/jam. Tapi, itu katanya fisika lama, yang modern rumusnya:  VAO = (VAB + VBO) dibagi 1+(VAB . VBO)/C2 . Nah lho? Pa Har bikin kaget dengan bilang selama ini kita ngerasa aman2 aja pake rumus kecepatan biasa. Tapi sekali lagi, beliau meluruskan, rumus fisika lama bukan salah, tapi karena kecepatan yang terjadi di sekeliling kita ga mendekati kecepatan cahaya, jadi kalau dimasukin ke rumus sbg VAB . VBO hasilnya bakal beda 0,0000000001 (misal) sama cara fisika lama. Rumus di atas bisa dipake buat sesuatu yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.

Ko bisa ya? Padahal katanya Einstein ga pernah melakukan percobaan, hanya cukup memakai teori dan analisis yang mendalam kemudian ditemukanlah rumus-rumus tersebut.

Oya, ada yang menarik lagi. Kalo kita bisa mencapai kecepatan cahaya (C), kita ga akan terkena waktu atau bisa dibilang awet muda lah. Pa Har mengajak kita berkhayal, andaikan kita ada di dalam pesawat yang bergerak dengan percepatan a=50 m/s2, kapan waktu untuk mencapai C?

a=50m/s2

Vt = V0 + at

3×108 = 0 + at

t = 6×106 s

sekon dikonversikan ke tahun: dibagi 3,14×107 jadi 0,2 tahun atau sekitar 2 bulan.

Terus Pa Har bilang “2 bulan menuju keabadian”. Semuanya spontan ketawa, apalagi pas Chris nambahin: “Iya, tapi abadinya pas udah di alam lain”

Dipikir-pikir, bisa juga ya, 2 bulan untuk selamanya kenapa engga? Tapi ga mungkin deng, manusia ga akan kuat gerak dengan kecepatan segitu. Ini intermezzo dari Pa Har aja sih.

Terakhir, selintas aja, Pa Har nanya, : ”Ada ga benda yang kalau dilempar ga akan jatuh menuju pusat bumi?” Semuanya berpikir ga ada, karena emang udah Sunatullah kalau semua benda pasti bakal kena gaya gravitasi bumi. Tapi ternyata ada! Ada, kalau benda itu dilempar dari atas gunung dengan kecepatan orbit. Benda itu ga akan jatuh dan akan terus mengelilingi bumi. Tapi untuk kecepatan orbit belum dibahas mendalam, nanti kalau udah dapet ilmunya aku cantumin di sini deh.

Puncaknya nih, di samping sekian banyaknya rumus-rumus yang mungkin belum kita ketahui semuanya, para ilmuwan sekarang lagi nyari (kalo ga salah namanya) T.O.E singkatan dari “Theory of Everything”. Mereka ceritanya mau nyari rumus yang mencakup semua rumus. Jadi rumusnya bisa diturunin dll dsb menghasilkan semua rumus2 yang ada. Subhanallah ya, kita harus mencontoh semangat mereka dalam menemukan hal yang baru. Kita juga harus cinta ilmu pengetahuan,  Rasulullah aja seorang pecinta ilmu, masa umatnya engga?

Yup, kayanya sgini dulu yang bisa aku bagi. Intinya, ternyata ilmu Allah itu sangat luas!! Baru tau kalo Astronomi itu rame! (Selintas kepikiran nih mau jadi astronom.. )

Ok kawan2, nantikan kisah2 ilmu pengetahuan lainnya!

Wallahua’lam bishshawab..

-Aplikasi dari postingan sebelumnya nih ceritanya, kalau ada yang salah mohon dikoreksi, ya-

Long time no see

Assalamu’alaikum..

Teman2, lama tak jumpa ya, udah kelas 3 mah sibuk nih, susah nyempetin diri buat nulis teh. Sementara cerita2 udah berseliweran tapi ga sempet nuanginnya ke tulisan. Tapi untunglah ada soal-soal mekanika jadi lumayan ada kerjaan. Lho? Ga nyambung ya? Gapapa lah ya, lanjutin aja ok?

Ceritanya nih di postingan ini saya (saya? Udah lama ga nulis jadi kagok uy) mau sedikit bagi2 ilmu yang udah didapet, yang mudah-mudahan bermanfaat dan bisa langsung diaplikasikan.

Ok, jadi begini, waktu Ramadhan kemarin, si ibu ngasih 2 lembar fotokopian. Judulnya lupa, tapi intinya lembaran itu memberitahukan bahwa Pak Hernowo membuka SEKOLAH MENGIKAT MAKNA untuk siswa kelas 3SMP-3SMA dengan Pak Hernowo terjun langsung sebagai pengajarnya. (Btw, pd tau Pak Hernowo kan? Itu lho, yang banyak nulis buku-buku motivasi dan buku panduan untuk “penulis pemula”. Bukunya banyak banget!! Andaikan Buku Sepotong Pizza, Quantum Learning, Quantum Reading, Mengikat Makna, dll.) Jadwalnya tiap Senin-Kamis-Sabtu dari jam 16.00-17.30 kira2. Berhubung rumah beliau ga begitu jauh, masih kuat lah kalo naik sepeda kesana, akhirnya aku setuju waktu disuruh ibu ikutan. Pak Hernowo gitu yang ngajarnya. Wah… Pasti asik..! Dan yang paling bikin seneng, biayanya nol rupiah!!^^ Beliau juga nyantumin di lembar itu kalo syarat ikut sekolah ini cuma 3: bawa buku catatan, bawa buku cerita yang paling disukai, dan mengajukan minimal 1 pertanyaan yang ditulis di buku catatan. Simpel kan?

Hari Kamis sepulang sekolah aku kesana. Dan wow! Akhirnya ketemu juga sama Pak Hernowo tapi… pesertanya SMP smua, hiks. Gapapa2, ga ada kata malu buat belajar, ya ga? Waktu aku nyampe, acaranya udah setengah jalan, yaudah aku ikutin aja dengan konsentrasi penuh pada tiap kata-kata Pak Hernowo. Sistem sekolahnya ga formal, mungkin tujuan beliau agar peserta yang ikut bisa ter-explore karena suasananya dibuat senyaman mungkin seperti sedang mengobrol bersama teman.

Pertemuan kali itu membahas seputar tujuan dari sekolah itu didirikan. Berangkat dari ayat pertama Al-Qur’an yang diturunkan, “Iqra”, “Bacalah!”. Beliau ingin menumbuhkan minat baca yang tinggi pada generasi muda yang saat ini sudah dibombardir media dan fasilitas yang melenakan. Lalu beliau mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya” Beliau melihat realita bahwa siswa-siswa seolah dipaksa untuk memahami pelajaran, contohnya banyak guru yang berkata: “Kalian baca halaman 30-50, minggu depan akan diulangankan!” Si guru tidak memperhatikan bahwa 20 halaman itu sangat memberatkan siswa dengan paragraf yang panjang-panjang dan tulisan yang berderet sangat rapi. Siswa hanya diminta membaca tanpa mengikat maknanya, lalu ketika nilai siswa ancur semua, siapa yang disalahkan? (Siswanya dong, salah sendiri bacanya males-malesan^^). Di sini Pak Hernowo mengajarkan bagaimana cara mengikat makna yang akan memberikan manfaat pada kita untuk ke depannya.

Mengikat makna akan jauh lebih lebih bermanfaat dibanding hanya membaca dan paham saja. Karena seperti yang dikatakan Sayyidina Ali, kita perlu mengikat makna agar ilmu yang kita punya tidak hilang begitu saja ketika angin menerjang. Caranya? Ternyata sangat mudah, kawan! Seperti menulis di buku notes, hanya tambahkan kata aku sebagai subjeknya. Contohnya:

Hari ini aku baru tau lho, kalo sebenernya energi ionisasi itu ga nentuin kereaktifan suatu unsur, yang nentuin itu kelektronegatifannya. Waduh, berarti ulangan kemarin essay no.3 aku salah dong T.T

Yang di atas mah malah curhat pengalaman sendiri, hehe. Tapi intinya gitu. Kita harus terlibat dalam catatan yang kita buat. Tulis aja seolah-olah kita lagi ngobrol sama seseorang. Tambahin komentar-komentar yang mencolok dan sekiranya bisa bikin kita inget terus sama yang kita tulis.

Ilmu yang aku dapet dari sekolah ini banyak banget, subhanallah.. Makasih banyak, Pak. Aku juga ga pernah lupa sama satu pertemuan yang saat itu sebenernya sekolah libur tapi aku ga tau dan keburu dateng. Alhamdulillah istri beliau menyambut dengan ramah dan bilang nawarin buat nunggu Pak Hernowo pulang kerja. (aduh maaf Pak, pulang kerja langsung diganggu). Kali itu aku kayak privat eksklusif sama Pak Hernowo.

Di akhir pertemuan, aku bilang: “Pak, saya udah bikin blog, barangkali Bapak mau kunjungi terus mengomentari. Boleh Pak?” (udah siap-siap pegang pulpen buat nulis alamat blog ini)

Tiba-tiba beliau menjawab: “Saya tanya dulu, buat apa Adik bikin blog?”

Aku: (diam, berpikir)

Bapak: “Sudah banyak orang yang minta dinilai tulisannya dan bilang: kunjungi blog saya Pak, tapi saya selalu nanya tujuan mereka bikin blog apa. Isi blognya apa. Apakah cuma buat ikut-ikut orang atau apa. Kalau kamu sudah yakin tujuan kamu, ga perlu tanya pendapat orang lain, menulis saja dengan percaya diri. Kalau kamu yakin kamu nulis yang bermanfaat bagi orang lain, lanjutkan menulis, kalau engga ya jangan, buat apa nulis kalau ga ada tujuan.”

Aku: (melongo. Pulpen hampir jatuh dari genggaman)

Bapak: “Saya ga ngelarang Adik bikin blog ya, hanya sayang saja, cape2 buat blog kalau g ada manfaatnya. Tau tidak AMBAK? Apa Manfaatnya Bagiku?”

Aku: “Oh iya tau Pak, saya udah baca bukunya”

Bapak: “Nah, praktekkan itu, ok?”

Pertemuan yang sangat berkesan ini ditutup dengan azzamku dalam hati : Aku akan buat magicpencil.wordpress.com jadi berguna bagi siapapun yang membacanya, kan kata Pak Hernowo juga“kalau yakin itu bermanfaat, lanjutkan!”

Begitulah, teman2, ilmu yang dipetik dari seorang penulis terkenal, Pak Hernowo, selama Ramadhan kemarin. Sebenernya ilmunya yang aku dapet ga hanya sampai sini, masih banyak ilmu-ilmu berharga yang ga cukup ditulis 1 kali slesai. Tapi  jangan khawatir, postingan2 selanjutnya ngantri buat dibaca..!