Sebuah kisah

Suatu hari seorang anak mempersembahkan sebuah puisi pada ibunya, puisi tetang keutamaan seorang hafidz Qur’an. Dengan keyakinan yang tinggi akan makna mendalam puisi yang ia buat, sang anak membacakannya, penuh penjiwaan. Sudah dibayangkan mata ibunda yang akan berkaca-kaca tanda terharu setelah mendengarnya. Tapi setelah selesai, sang ibu berkomentar, “Nak, sangat bagus kau punya cita-cita seperti itu, tapi jangan sampai kau lupa akan pengamalan Al-Qur’an. Jangan sampai kau hanya hafal, tanpa mengerti dan menjalankan perintah Allah di dalamnya. Ibu senang anak-anak ibu memiliki cita-cita yang sangat mulia, tapi pengamalannya lah yang harus diutamakan, bahkan diwajibkan oleh Pencipta kita. Jika kamu hafal Qur’an, barulah itu suatu poin lebih yang bisa kau persembahkan pada-Nya.”. Alih-alih sang anak melihat air mata haru, dihadapannya sang ibu tersenyum, seolah mencoba memberi pemahaman dan meluruskan pandangan buah hatinya. Setelah itu, sang anak hanya bisa membalas senyum ibundanya sembari menahan tangis. Ucapan terimakasih pun tak kuasa ia ucapkan, “Terimakasih Bu, ibu menghindarkanku dari persepsi yang dapat membuatku salah tujuan. Do’akan anakmu agar dapat selalu mengamalkan ajaran-Nya dan juga mampu menghafal kalam-kalam-Nya”

Do’a Menjelang Fajar

Kudengar sebuah berita gembira

Bahwa yang hafidz Qur’an,

Disediakanlah bagi orangtuanya mahkota surga

Di alam kubur pun dilarang-Nya malaikat

Hanya untuk menyentuh sedikit saja

Maka

Saat tinggal sedikit yang tersisa di hadapan Sang Mahasegala

Kududuk bersimpuh dengan kaki melepuh

Allah, jangan biarkan aku mati

Sebelum kukhatamkan hafalan Qur’an-Mu yang suci

-23 Oktober 2009-