Talking about the past

Aku bener2 orang yang ga bisa lepas dari masa lalu ya. Dari bentuk tanda tangan juga udah keliatan, katanya tanda tangan dengan bentuk.. –aduh gmn ya jelasinnya? Pokonya tanda tangan aku huruf depannya A trus kaki si A bagian kiri nya membentuk lintasan hampir stengah lingkaran –mirip kaya soal favorit SMA (favorit guru, maksudnya^^v) waktu UTS/UAS fisika ttg kekekalan energi, yang kalo di soal tuh lintasan bola itu, lho, yang biasanya pertanyaannya pada titik mana posisi tertinggi bola? Dijawab dalam R (jari-jari). Dan ternyata soal-soal serupa aku temuin lagi di kuliah.

*Stoppe, stoppe! (gaya Chiaki waktu berhentiin orkestra). Mau bahas tandatangan atau fisika neeh?!

Yup, kembali ke jalan yang benar, menurut buku panduan “Grapho for Success”, orang dengan tanda tangan kaya gitu memiliki prinsip bahwa masa lalu adalah bagian yang sangat penting dalam hidupnya. Apa ini maksudnya orang kaya gitu susah lupain masa lalu? Atau sering merasa ingin balik lagi ke masa lalu? Atau merasa sedih meninggalkan masa lalu? (ah, ini terlalu lebai). Kalo jawabannya ya, berarti emang bener, aku orang yang sangat menganggap penting masa lalu.

Liat buku kenangan SMP, nangis, inget guru-guru SMP, nangis. Baca tulisan waktu SMA, nangis–lho ko banyak nangisnya?? Ada temen SMA yang ke Bandung ga bilang2, langsung berkaca-kaca (ehm, siapa ya? ada yang ngerasa? :D ), untung ga sampai nangis soalnya lagi kuliah, ehehe. Dan berhubung dulu, dulu lho, dulu, aku sering nulis, baik di blog, diary (masih jaman ya?), Microsoft OneNote, berhamburanlah kenangan-kenangan itu, menyerbu layaknya ombak yang datang tanpa henti.

Paling sedih kalo udah liat tulisan jaman SMA kelas 1 atau 2, terlihat masih semangat menggebu-gebu, ide2 masih cemerlang, tulisannya mengalir, mungkin bisa berbagi motivasi dan hikmah ke orang lain (amin, semoga aja iya). Dan sempet mikir, ko bisa dulu bikin tulisan kaya gitu? Malah pernah serasa baca tulisan orang lain, padahal itu tulisanku sendiri. Ada apa sebenarnya uli? Ada apa??!–ehm, mba, maaf, mba ga lagi main sinetron

Tuh kan, sekarang malah ga jelas mau nulis apa. Maklum, udah lama ga nulis2 lagi, kangen sih sebenrnya, kangen banget. Tapi apa daya, sekarang waktunya ga bersahabat–pinjem istilah temen SMP, keinget terus sampe sekarang.

Barusan aja, baru menyadari sesuatu yang keadaannya amat sangat berbeda. Sedihnya aku ga tau pasti kapan perubahan itu terjadi. Dari situ langsung inget jaman dulu, perasaan ga gitu2 amat. Aduh aneh lah pokonya gabisa diungkapkan dengan kata-kata, maaf ya kalo ga dimengerti..

Perasaan yang dulu pernah muncul jadi muncul lagi, bahkan lebih dahsyat. Masih inget postingan aku tentang “Zakariasickness” yang juga aku post di note facebook? Tadi aku baca itu lagi dan perasaan yang sama kembali terulang.

Ya Allah, kadang aku ngerasa diri aku yang dulu jauh lebih baik dari yang sekarang. Ingin rasanya “interogasi” uli yang dulu:
“Li, kiat2 bisa gini tuh gimana? Kamu tiap hari kebiasaannya apa? Ada tips ga buat gini, gitu, apa?” Tapi sekali lagi aku sadar, yang berlalu ga bisa di replay, kecuali dunia ini udah nyiptain alat yang bisa melampaui kecepatan cahaya, in other word udah bisa bikin time machine, mesin waktu kaya di novel trilogi “Gideon”.

Di tengah deruan memori yang seolah berloncatan dari time capsule yang udah sekian lama dikubur, tiba2 inget tulisan Bu Atik di diary waktu SMP (fyi, dulu waktu kelas 2 guru B.Ind menjadikan diary sbg tugas yang harus dikumpulin tiap minggu, sama Bu Atik dikomentarin, dan mungkin sebagai media untuk mengenal murid dan berkomunikasi bagi yang sulit diajak ngobrol. Programnya cuup efektif, disambut baik sama anak2 sekelas, terutama yang perempuan). Waktu itu aku lagi terserang demam yang sama dan konsultasi ke Bu Atik. Sebagai balasan, beliau nulis:

Uli, kadang masa lalu yang kita lalui bisa jadi jebakan lho! Buktinya, akrena suatu masalah, kita jadi berfikir ingin kembali ke masa lalu karena masa lalu menyenangkan. Padahal kita hidup di masa sekarang yang jauh berbeda dengan masa lalu. Usia, masalah, teman-teman, dll juga berbeda. Jadi keharusan kita adalah jalani hidup kita sekarang dengan ilmu yanng juga mudah2an meningkat dan lebih tinggi dibandingkan masa lalu.

Cring, cring, cring… (ceritanya ada cahaya kemilauan, artinya dapet pencerahan, penerj-)

Yup, stuju, Bu! Cukup jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Siapa tau kenangan2 kaya gitu salah satu strategi syetan menggelincirkan kita sebagai hamba Allah yang sedang menjalankan tugas, fungsi, dan peran kita. Naudzubillahi min dzalik.. Sekarang yang harus dilakukan adalah luruskan niat, yakin bahwa Allah selalu memperhatikan semua perbuatan kita. Cukuplah Allah sebagai saksi perbuatan kita. Jangan pusingkan bagaimana pandangan orang lain terhadap kita, kecuali untuk dijadikan bahan introspeksi diri untuk ke arah yang lebih baik.

Sebagai penutup, walau belum izin (tapi insyaAllah boleh, bageur da orangnya^^), mau ngutip status facebook sohib aku waktu SMA. Kemarin2 aku liat beliau nulis:

aku tidak ingin kalah dengan aku yang dulu

Simpel, pendek, bahkan 1 detik ngelirik pun udah kebaca. Tapi tahukah kau, Yuni? Status FB mu membuat hatiku turut menggemakan kalimat itu. Azzamku dalam hati, aku bakal menang dari aku yang dulu!! Smangat li!^^9

Theory of Everything

Siang itu di Ruang 7 sebuah bimbel dengan T-Rex sebagai jurus jitunya…

Guru fisika favorit kami-yang sekaligus merangkap sebagai wali kelas 33D3, Pa Har, dengan santai menerangkan fisika modern dan sesekali kita nanya dan diskusi. Beliau jawab dengan sabar dan sekali lagi, tetap santai.

Ternyata fisika modern membuat semuanya serba relatif. Jika kita sekarang duduk diam, apakah benar diam? Terhadap bumi yang kita pijak kita memang diam. Tapi terhadap pusat bumi kita berotasi dan terhadap matahari kita berevolusi. Sama halnya seperti orang menjatuhkan pulpen dalam kereta yang sedang bergerak. Bagi orang di dalam kereta pulpen jatuh vertikal. Tapi bagi orang di luar kereta, lintasan jatuhnya melengkung (kaya setengah parabola) karena saat pulpen menyentuh tanah, keretanya sudah berpindah tempat. Agh sedikit bercanda: “Wah, kalo gitu semua yang kita pelajari itu salah, dong?” Kita berdua langsung ketawa2, ngebayangin gimana pusingnya kemarin ngerjain soal kesetimbangan, dan ga terima kalo SEMUA yang kemarin kita pelajari itu SALAH. Ga mungkin, ga mungkin, semoga engga salah (do’a dalam hati). Ternyata….. Alhamdulillah emang ga salah! Pa Har meluruskan pikiran -sekaligus melegakan hati kami, bahwa semua rumus fisika ga ada yang salah. “Coba aja hitung waktu yang dicapai pulpen dengan lintasan lurus dan lintasan melengkung, pasti sama”. Fiuh, berarti yang kemaren ga sia2 ya Agh^^

Ada juga Teori Relativitas Khusus yang isinya di Postulat 2, dari hasil analisis teori dan perhitungan yang complicated, Om Albert menyatakan bahwa kecepatan cahaya itu mutlak. Analoginya, jika ada mobil melesat dengan kecepatan 300km/jam, kecepatan sedemikian besar itu dirasakan oleh orang yang diam. Sedangkan bagi mobil yang bergerak 299km/jam, mobil pertama serasa bergerak 1km/jam. Nah, beda dengan kecepatan cahaya (3×108 m/s). Jika ada pesawat bergerak 100 m/s dan pesawat yang kecepatannya 2,9×108 m/s, tetap saja kecepatan cahaya bernilai 3×108 m/s bagi kedua pesawat. Subhanallah..

Ada rumus untuk menjumlahkan kecepatan. Kasusnya ada orang diam(O), Kecepatan mobil B terhadap orang (VBO) = 80 km/jam, kec. mobil A terhadap B(VAB) = 10 km/jam), maka bisa dipastikan VAO nya 80+20=100 km/jam. Tapi, itu katanya fisika lama, yang modern rumusnya:  VAO = (VAB + VBO) dibagi 1+(VAB . VBO)/C2 . Nah lho? Pa Har bikin kaget dengan bilang selama ini kita ngerasa aman2 aja pake rumus kecepatan biasa. Tapi sekali lagi, beliau meluruskan, rumus fisika lama bukan salah, tapi karena kecepatan yang terjadi di sekeliling kita ga mendekati kecepatan cahaya, jadi kalau dimasukin ke rumus sbg VAB . VBO hasilnya bakal beda 0,0000000001 (misal) sama cara fisika lama. Rumus di atas bisa dipake buat sesuatu yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.

Ko bisa ya? Padahal katanya Einstein ga pernah melakukan percobaan, hanya cukup memakai teori dan analisis yang mendalam kemudian ditemukanlah rumus-rumus tersebut.

Oya, ada yang menarik lagi. Kalo kita bisa mencapai kecepatan cahaya (C), kita ga akan terkena waktu atau bisa dibilang awet muda lah. Pa Har mengajak kita berkhayal, andaikan kita ada di dalam pesawat yang bergerak dengan percepatan a=50 m/s2, kapan waktu untuk mencapai C?

a=50m/s2

Vt = V0 + at

3×108 = 0 + at

t = 6×106 s

sekon dikonversikan ke tahun: dibagi 3,14×107 jadi 0,2 tahun atau sekitar 2 bulan.

Terus Pa Har bilang “2 bulan menuju keabadian”. Semuanya spontan ketawa, apalagi pas Chris nambahin: “Iya, tapi abadinya pas udah di alam lain”

Dipikir-pikir, bisa juga ya, 2 bulan untuk selamanya kenapa engga? Tapi ga mungkin deng, manusia ga akan kuat gerak dengan kecepatan segitu. Ini intermezzo dari Pa Har aja sih.

Terakhir, selintas aja, Pa Har nanya, : ”Ada ga benda yang kalau dilempar ga akan jatuh menuju pusat bumi?” Semuanya berpikir ga ada, karena emang udah Sunatullah kalau semua benda pasti bakal kena gaya gravitasi bumi. Tapi ternyata ada! Ada, kalau benda itu dilempar dari atas gunung dengan kecepatan orbit. Benda itu ga akan jatuh dan akan terus mengelilingi bumi. Tapi untuk kecepatan orbit belum dibahas mendalam, nanti kalau udah dapet ilmunya aku cantumin di sini deh.

Puncaknya nih, di samping sekian banyaknya rumus-rumus yang mungkin belum kita ketahui semuanya, para ilmuwan sekarang lagi nyari (kalo ga salah namanya) T.O.E singkatan dari “Theory of Everything”. Mereka ceritanya mau nyari rumus yang mencakup semua rumus. Jadi rumusnya bisa diturunin dll dsb menghasilkan semua rumus2 yang ada. Subhanallah ya, kita harus mencontoh semangat mereka dalam menemukan hal yang baru. Kita juga harus cinta ilmu pengetahuan,  Rasulullah aja seorang pecinta ilmu, masa umatnya engga?

Yup, kayanya sgini dulu yang bisa aku bagi. Intinya, ternyata ilmu Allah itu sangat luas!! Baru tau kalo Astronomi itu rame! (Selintas kepikiran nih mau jadi astronom.. )

Ok kawan2, nantikan kisah2 ilmu pengetahuan lainnya!

Wallahua’lam bishshawab..

-Aplikasi dari postingan sebelumnya nih ceritanya, kalau ada yang salah mohon dikoreksi, ya-