Theory of Everything

Siang itu di Ruang 7 sebuah bimbel dengan T-Rex sebagai jurus jitunya…

Guru fisika favorit kami-yang sekaligus merangkap sebagai wali kelas 33D3, Pa Har, dengan santai menerangkan fisika modern dan sesekali kita nanya dan diskusi. Beliau jawab dengan sabar dan sekali lagi, tetap santai.

Ternyata fisika modern membuat semuanya serba relatif. Jika kita sekarang duduk diam, apakah benar diam? Terhadap bumi yang kita pijak kita memang diam. Tapi terhadap pusat bumi kita berotasi dan terhadap matahari kita berevolusi. Sama halnya seperti orang menjatuhkan pulpen dalam kereta yang sedang bergerak. Bagi orang di dalam kereta pulpen jatuh vertikal. Tapi bagi orang di luar kereta, lintasan jatuhnya melengkung (kaya setengah parabola) karena saat pulpen menyentuh tanah, keretanya sudah berpindah tempat. Agh sedikit bercanda: “Wah, kalo gitu semua yang kita pelajari itu salah, dong?” Kita berdua langsung ketawa2, ngebayangin gimana pusingnya kemarin ngerjain soal kesetimbangan, dan ga terima kalo SEMUA yang kemarin kita pelajari itu SALAH. Ga mungkin, ga mungkin, semoga engga salah (do’a dalam hati). Ternyata….. Alhamdulillah emang ga salah! Pa Har meluruskan pikiran -sekaligus melegakan hati kami, bahwa semua rumus fisika ga ada yang salah. “Coba aja hitung waktu yang dicapai pulpen dengan lintasan lurus dan lintasan melengkung, pasti sama”. Fiuh, berarti yang kemaren ga sia2 ya Agh^^

Ada juga Teori Relativitas Khusus yang isinya di Postulat 2, dari hasil analisis teori dan perhitungan yang complicated, Om Albert menyatakan bahwa kecepatan cahaya itu mutlak. Analoginya, jika ada mobil melesat dengan kecepatan 300km/jam, kecepatan sedemikian besar itu dirasakan oleh orang yang diam. Sedangkan bagi mobil yang bergerak 299km/jam, mobil pertama serasa bergerak 1km/jam. Nah, beda dengan kecepatan cahaya (3×108 m/s). Jika ada pesawat bergerak 100 m/s dan pesawat yang kecepatannya 2,9×108 m/s, tetap saja kecepatan cahaya bernilai 3×108 m/s bagi kedua pesawat. Subhanallah..

Ada rumus untuk menjumlahkan kecepatan. Kasusnya ada orang diam(O), Kecepatan mobil B terhadap orang (VBO) = 80 km/jam, kec. mobil A terhadap B(VAB) = 10 km/jam), maka bisa dipastikan VAO nya 80+20=100 km/jam. Tapi, itu katanya fisika lama, yang modern rumusnya:  VAO = (VAB + VBO) dibagi 1+(VAB . VBO)/C2 . Nah lho? Pa Har bikin kaget dengan bilang selama ini kita ngerasa aman2 aja pake rumus kecepatan biasa. Tapi sekali lagi, beliau meluruskan, rumus fisika lama bukan salah, tapi karena kecepatan yang terjadi di sekeliling kita ga mendekati kecepatan cahaya, jadi kalau dimasukin ke rumus sbg VAB . VBO hasilnya bakal beda 0,0000000001 (misal) sama cara fisika lama. Rumus di atas bisa dipake buat sesuatu yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.

Ko bisa ya? Padahal katanya Einstein ga pernah melakukan percobaan, hanya cukup memakai teori dan analisis yang mendalam kemudian ditemukanlah rumus-rumus tersebut.

Oya, ada yang menarik lagi. Kalo kita bisa mencapai kecepatan cahaya (C), kita ga akan terkena waktu atau bisa dibilang awet muda lah. Pa Har mengajak kita berkhayal, andaikan kita ada di dalam pesawat yang bergerak dengan percepatan a=50 m/s2, kapan waktu untuk mencapai C?

a=50m/s2

Vt = V0 + at

3×108 = 0 + at

t = 6×106 s

sekon dikonversikan ke tahun: dibagi 3,14×107 jadi 0,2 tahun atau sekitar 2 bulan.

Terus Pa Har bilang “2 bulan menuju keabadian”. Semuanya spontan ketawa, apalagi pas Chris nambahin: “Iya, tapi abadinya pas udah di alam lain”

Dipikir-pikir, bisa juga ya, 2 bulan untuk selamanya kenapa engga? Tapi ga mungkin deng, manusia ga akan kuat gerak dengan kecepatan segitu. Ini intermezzo dari Pa Har aja sih.

Terakhir, selintas aja, Pa Har nanya, : ”Ada ga benda yang kalau dilempar ga akan jatuh menuju pusat bumi?” Semuanya berpikir ga ada, karena emang udah Sunatullah kalau semua benda pasti bakal kena gaya gravitasi bumi. Tapi ternyata ada! Ada, kalau benda itu dilempar dari atas gunung dengan kecepatan orbit. Benda itu ga akan jatuh dan akan terus mengelilingi bumi. Tapi untuk kecepatan orbit belum dibahas mendalam, nanti kalau udah dapet ilmunya aku cantumin di sini deh.

Puncaknya nih, di samping sekian banyaknya rumus-rumus yang mungkin belum kita ketahui semuanya, para ilmuwan sekarang lagi nyari (kalo ga salah namanya) T.O.E singkatan dari “Theory of Everything”. Mereka ceritanya mau nyari rumus yang mencakup semua rumus. Jadi rumusnya bisa diturunin dll dsb menghasilkan semua rumus2 yang ada. Subhanallah ya, kita harus mencontoh semangat mereka dalam menemukan hal yang baru. Kita juga harus cinta ilmu pengetahuan,  Rasulullah aja seorang pecinta ilmu, masa umatnya engga?

Yup, kayanya sgini dulu yang bisa aku bagi. Intinya, ternyata ilmu Allah itu sangat luas!! Baru tau kalo Astronomi itu rame! (Selintas kepikiran nih mau jadi astronom.. )

Ok kawan2, nantikan kisah2 ilmu pengetahuan lainnya!

Wallahua’lam bishshawab..

-Aplikasi dari postingan sebelumnya nih ceritanya, kalau ada yang salah mohon dikoreksi, ya-