Let me think for awhile

‘Gimana ya sikap kita kalo ada temen yang berbuat salah?’ Dulu bilangnya, ah, ini mah masalah klasik, tinggal ingetin, beres! Skarang baru ngerasain bingungnya setelah ngalamin sendiri.

(tarik nafas pelan…)

Fuuuh… (menghembuskan nafas pun rasanya berat)

We don’t always have the same principle, we’ve argued sometimes, but WHY do we have to be different for this basic thought?

Pelajaran Berharga Buat Si Kakak

Sore tadi, seorang kakak terlihat asik mengobrol dengan adiknya di ruang tengah. Pembicaraan mereka terlihat serius, muka mereka berkerut-kerut tanda sedang berpikir. Si kakak berbicara panjang lebar dan sesekali adiknya turut menimpali. Sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang sangat menarik. Terbukti dari ekspresi penasaran yang diperlihatkan oleh sang adik pada kakaknya yang juga dengan rinci menjelaskan masalah itu.

Hal yang diperbincangkan ternyata hal yang mencengangkan. Salah satu murid di sekolah kakaknya mengalami musibah, rumahnya kebakaran. Dan berita itu entah bagaimana caranya terdengar oleh sang adik (anak ini memang memiliki indra pendengaran yang tajam hingga berita sekecil apapun dapat ditangkap olehnya, termasuk berita ini yang disampaikan sang kakak pada ibunya). Sang kakak berkata, “Mudah-mudahan diberi ketabahan dan keikhlasan, ya.” Dan dalam hati kakak itu, ia masih bertanya-tanya, untuk apa Allah memberi musibah kebakaran itu? Apakah ada sesuatu yang salah? Atau apa???!!! Setelah mengiyakan perkataan kakaknya, sang adik berkata “Kak, kalo kita dikasih musibah, berarti Allah lagi sayang sama kita“. Dhuar! (sang kakak bagai mendengar petir di siang bolong). Setelah mengatakan hal tersebut, anak itu nyelonong pergi meninggalkan kakaknya yang terbengong-ngengong. Tercengang tepatnya. Dalam hati, sang kakak berteriak “ETA PISAN!!!!!!! (baca : itu dia!!!!!!!!!)” Dan istimewanya, yang menjawab kebingungan hatinya itu adalah adiknya sendiri yang berusia 4 tahun di bawahnya. Subhanallah…

Anak sekecil itu bisa apa?? Bukan maksud untuk menyangsikan atau apa, tapi kadang kita memang suka meremehkan orang lain, apalagi orang yang umurnya di bawah kita. Dan Subhanallah, dari cerita tadi, ternyata si adik lebih dapat berpikir jernih daripda kakaknya hingga ia dapat menyimpulkan sesuatu yang-Subhanallah..-bahkan tidak terpikir sebelumnya oleh si kakak. Hal ini sangatsangatsangat mengena di hatinya, sekaligus menjadi tamparan. Ke mana saja ia selama ini??Pernahkah menyisihkan sedikit waktu untuk berdzikir kepada-Nya? Hingga menyadari bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya (dan pasti ada ibrah yang dapat diambil). Berarti Allah memang sedang menguji hamba-Nya, dan itu adalah tanda cinta kasih-Nya pada kita. Dan satu hal yang jangan kita lupakan, bahwa Allah tidak pernah menimpakan musibah di luar kemampuan kita, abdi-Nya. Hal ini berseliweran, berputar-putar, dan satu per satu kegundahan hatinya hilang.. “Alhamdulillah..” ujarnya sambil tersenyum. :D

Sebuah dialog singkat yang membuka pikiran si kakak, pelajaran yang tersampaikan lewat adiknya yang polos dan lugu. Hmmph… dan kakak yang sempat terdiam beberapa menit lamanya untuk merenung kata2 adiknya itu adalah aku.

 

Jazakillah khairan katsira, De.. (buat Hanifah Hafizhatulhaq, adikku yang kadang nyebelin [dan emang nyebelin^^] tapi kata2nya dahsyat!!!).